Kajian Kitab Al-Hikam 02-02-2020, Bab Resiko Hati Yang Keruh

Saat pengajian rutinan ahad malam

Pengajian Kitab Al-Hikam | Oleh KH. Ahmad Hasan | Resiko Hati Yang Keruh | Maqolah ke-13 |

Kita membaca maqolah yang insyaallah bila kita renungi betul, kita tafakkuri betul maka maqolah ini akan merasuk kedalam hati kita. Dan kita harapkan jika ini bisa kita pahami dan sadari, kemudan masuk kedalam qalbu kita , diharapkan nanti bisa menjadi cahaya hati kita didalam menjalani proses kehidupan sehari hari.

Bismillahirrahmanirrahim
كَيْفَ يَشْرُقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مِنْطَبِعَةٌ فِيْ مِرْآتِهِ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللهِ وَ هُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَ هُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابِةِ غَفَلَاتِهِ أَمْ كَيْفَ يَرْجُوْ أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأَسْرَارِ وَ هُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ.
Bagaimana mungkin qalbu akan bersinar, sedangkan bayang-bayang dunia masih terpampang di cerminnya? Bagaimana mungkin akan pergi menyongsong Ilahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya? Bagaimana mungkin akan bertemu ke hadirat-Nya, sedangkan ia belum bersuci dari kotoran kelalaiannya? Bagaimana mungkin diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat dari kekeliruannya?
Pertama,
كَيْفَ يَشْرُقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مِنْطَبِعَةٌ فِيْ مِرْآتِهِ
“Bagaimana mungkin qalbu akan bersinar, sedangkan bayang-bayang dunia masih terpampang di cerminnya? “
artinya bila didalam i’tiqod hati kita, masih menganggap bahwa makhuk dapat membawa madhorot kepada kita, maka ketka i’tiqod hati seperti itu , saat itu pula kaca hati kita akan menjadi tertutup.
Bisa kita bayangkan ada kaca untuk melihat diri kita, kemudian kaca yang biasa kita pakai untuk berkaca itu kita tutupi gambar.
Pertanyaannya apakah kaca masih bisa meperlihatkan gambar kita? jawbanya tentu tidak.
Begitu pula hati, ketika masih beranggapan bahwa makhluk bisa memberi manfaat, mobil memberi manfaat pada kita, sepeda motor memberi manfaat pada kita, makanan dapat memberi manfaat pada kta, atau yang lain, jadi apapun yang kita miliki dari urusan dunia ini, kita punya anggapan memberi manfaat pada kita, maka saat itu hati kita tertutup, hati kita menjadi gelap, hati kita tidak bisa terang melihat Allah SWT, hati kita tidak bisa terang melihat kuasa dan kehendak Allah SWT.

Bahwa yang punya daya dan kekuatan itu mutlak hanya Allah SWT, ini tidak akan bisa beri’tiqod seperti itu apabila kita masih beranggapan bahwa makhluk itu bisa memberi manfaat atau memeri madhorot.

Pisau tajam, clurit tajam..terus beranggapan, wah, pisau itu bisa membunuh. Keika kita punya i’tiqod seperti ini, maka seketika itulah hati kita menjadi gelap. Kenapa demikian? karena pedang itu nggak bisa apa-apa, walaupun kita kencingi, maaf, kita beraki, walaupun kita lempar kotoran, pedang itu masih diam. Begitu pula mobil, sepeda motor dan makanan, mereka akan diam, nggak bisa apa-apa. Baru bisa bermanfaat jika ada daya dan kekuatan Allah SWT. Misalnya, ada makanan banyak, makanan itu akan bermanfaat kalo kita diberi keinginan, kalau kita diberi kemauan untuk memperoleh makanan tersebut. dan kalau kita diberi kemampuan untuk memakan makanan tersebut. Maka kalau seperti ini, makanan tersebut menjadi wasilah, anugerah Allah SWT , daya kuat Allah SWT dan bisa menjadi bermanfaat. bukan memberi manfaat, bisa bermanfaat, karena mereka akan bermanfaat karena adanya daya kuat Allah SWT.

Misalnya, ada seorang yang sakit, orang sakit perut, disitu ada obat, dan beranggapan obat tersebut bisa menyembuhkan penyakitnya. saat itu pula hati gelap. karena sebenarnya obat itu nggak bisa apa-apa. obat itu akan dapat memberikan manfaat bila Allah memberikan daya kuat kepada seseorang untuk mengambil manfaat dari obat tersebut. Artinya masih butuh daya kuat Allah SWT, kita diberi mau, kalau misalnya kita tidak diberi mau, tidak diberi syahwat untuk minum obat tersebut , obat tersebut tidak akan memberi manfaat pada kita. Jadi obat tersebut akan meberikan manfaat pada kita bila Allah SWT memberi mau dan memberi daya kuat kepada kita mengurainya kemudian meminumnya.

Jadi segala apa yang ada didunia ini akan memberi manfaat bila ada daya kuat Allah SWT.

Seperti contoh pedang tadi, pedang tidak bias apa-apa, mengapa kita takuti? yang seharusnya kita takuti adalah ketika mengencingi orang yang pegang pedang tersebut. Bila pedang tersebut diayunkan oleh orang yang pegang ke kita, bisa habis kitanya. kalo pedangnya tidak ada apa-apanya, tidak punya daya tidak punya kekuatan.
Begitu pula kita semuanya, kita bisa apa-apa kalau kita diberi bisa oleh Allah SWT. Kita bisa mellihat kalau diberi bisa melihat oleh ALLAH SWT. Mendengar, hanya diberi mendengar, kekuatan manusia hanya diberi kekuatan Oleh-Nya. Hidup, hanya diberi hidup. Karena hanya diberi hidup, dititipi hidup, ada saatnya pasti diambil oleh Allah SWT.
Inilah point pertama yang harus kita renungkan dan kita tafakkuri.
Kalau kita masih menganggap apa apa yang ada dialam ini mampu memberikan manfaat dan madhorot, saat itu juga hati kita mejadi gelap. maka hati kita tidak akan bisa melihat Allah, kuasa kehendak Allah, tidak bisa merasakan kasih sayang Allah, tidak bisa melihat keagungan dan kemuliaan Allah SWT. bila hal ini kita pahami dan kita sadari betu betul, dan dicoba untuk praktikkan, maka kita akan mencicipi rasanya.

Kedua,
أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللهِ وَ هُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ
“Bagaimana mungkin akan pergi menyongsong Ilahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya? “
artinya apa, ketika kita datang istiqomah ke pondok, kita diberi merasakan fungsi ke pondok, kita merasakan betul ketika dzikrul bil jawareh, dzikir dengan menggunakan anggota badan, dzikir dengan jalan nyapu-nyapu, masang oranamen dan macem-macem di ponsok sini, ini dinamakan dzikrul bil jawareh, karena macam macam dzikir juga banyak, dzikrul bil lisan, dzikrun bil qalb, ada dzikir bil sirri ada juga dzikrun bil tafakkur, ini jenis-jenis dzikir.

Dipondok ini, semua dzikir tersebut dididikkan dan diajarkan, jangan bilang kita tdak pernah didik dzikir secara lisan, kita selalu oleh beliau Guru kita selalu dididik untuk dzikir secara lisan buktinya saat beliau masih sugeng, setiap minggu pagi kita dituntut untuk dzikir, ketika musyafiran dan sebagainya. Dzikir bin Qalb pun juga demikian kita selalu dididik oleh beliau, karena dzikir ini adalah asalul dzikri adalah dzikrul bil qalb. Jadi melihat, memahami , memperhatkan kondisi hati ini namanya dzikir. Apakah saya makasiat, apakah saya sekarang diberi nikmat, apakah saya sekarang merasa lemah sehingga butuh doa, sehingga ketika kita maksiat harus melakukan taubat, ketika merasa digerojok anugerah, maka harus bersyukur kepada Allah, ini lah dzikir hati. Ketika kita diberi cobaan oleh Allah tetapi kita bisa sabar pun juga merupakan dzikir hati.

Kemudian dzikir bil tafakkur, disini kta berdzikr dengan menggunakan pikiran kita. Tidak usah jauh-jauh, ketika kita berikir tentang anggota badan kita, masyaallah sungguh indah ciptaan Allah, sungguh sempurna ciptaan Allah , hidung kita lubangnya dibawah, seandainya hidung kita lubang terletak diatas, betapa repotnya ketika hujan datang, hidung kita akan terisi oleh air. Jadi berfikir tenang hal ini saja, sudah termasuk berdzikir kepada Allah.

Saking pentingnya dzikir ini, ,sampai ada hadits ” dzikir sejenak itu lebih baik dari ibadah lahir setahun” , pada kasus ditas, berpikir sejenak tentang penciptan hidung saja itu sudah luar biasa.

Dzikir bil Sirri, merupakan dampak positif dari dzikir-dzikir sebelumnya, dzikir bil jawareh, dzikir bil qalb dan seterusnya.
Maka hadiah dari dzikir-dzikir tersebut adalah dzikir bil sirri ini. dzikir ini merupakn dzikir diluar tingkat kesadaran dan kemampuan mereka. Setiap tempat pada diri kita sudah melakukan dzkir semuanya, mulai latifah qalbi, latifah sirri, latifah aqhfa, latifah ruuhi, latifah khoffi , latifah qulb, latifah natiqoh. Jdi ketika latifah itu hidup semuanya maka tu adalah hadiah dari Allah SWT.
Ketika kita sudah bisa dzikir seperti ini, maka maksiat tidak akan pernah menghampiri kita. Kesalahan dalam berbicara, beri’tiqod dan berpikir tidak pernah menghampiri kita.
Kesimpunannya kita taidk akan bisa berangkat menuju Allah jika kita masih terjerat oleh hawa nafsu kita. Kita mau beragkat ke pondok, kita tahu bahwa fungsi pondok bergitu luarbiasa kita merasakan, tapi disisi lain kita punya kepentingan, ini tetangga lagi punya hajat tapi hari ini juga waktunya beristiqomah , pilih mana ya? inilah satu hal yang butuh kekuatan dan pertolongan Allah, kita harus mendahulukan yang mana?
Kalau urusan kemanusiaan bisa kita tunda, atau kalau kita lebih mementingkan hubungan kita dengan Allah, kita mendahulukan istiqomah nanti apa yang akan terjadi? kalau kita punya keyakinan mendahulukan kepentingn kita dengan Allah insyaallah Allah akan membereskan hubungan kita dengan manusia.
jadi ketika kita punya keyakinan mendahulukan membangun hubungan kita dengan Allah , kedekatan hati dengan Allah, membersihkan hati agar kita sambung pada Allah, maka nanti, kebutuhan hubungan kita dengan manusia kan dijamin oleh Allah SWT.
Tapi ketika kita balik, mendahulukan hubungan kita dengan manusia , apakah nanti mannusia tersebut yang kita dahulukan kepentingannya bisa menghubungkan dengan Allah? ini pun butuh pengetahuan, butuh pemahaman dan butuh mujahadah bin nafs, memerangi hawa nafsu kita sendiri.

Ketiga,
أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَ هُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابِةِ غَفَلَاتِهِ
“Bagaimana mungkin akan bertemu ke hadirat-Nya, sedangkan ia belum bersuci dari kotoran kelalaiannya? “

ini juga sesuatu yang harus kita ikhtiari dengan terus memohon pertlongan pada Allah agar kita diberi mau dan mampu untuk mendekat kepada Allah melalui menghilangkan kelaaian kelalainan dalam diri kita, kesombongan kesombongan pada diri kita, jadi ketika merasa bisa dan merasa mampu , maka ini suatu kesombongan. Jadi kesomobngan ini menjadi janabat, ingat ketika dalam keadaan junub, kita akan tercegah dari melakukan perbuatan baik. idak bisa membaca quran, tidak bisa sholat, tidak bisa masuk masjid. begitu pula ketika kita lalai pada Allah, lalai pada kuasa Allah, kehendak Allah, lalai memperhatikan anugerah-anugerah Allah, daya kuat Allah, keagunga Allah, ,maka nanti kita akan susah masuk kehadirat Allah SWT. karena hati kita sudah full atau penuh dengan hal hal lain, maka cahaya Allah tidak akan bisa masuk ke hati kita. Hati kita menjadi gelap, jika hati sudah gelap, sikap dan perilaku akan tidak benar. Jika hati kita terang, maka insyaallah sikap perilaku omongan kita enak didengar, nyaman di terima oleh orang begitu juga sebaliknya.
Ini lah satu ha yag harus kita perhatikan , kita pahami dan selalu kita mohon kan kepada Allah SWT karena kita tidak akan pernah mampu melakukan kebaikan ini bila Allah tidak memberi pertolongan pada kita. Jadi andalan kita adalah kemurahan fadlol Allah, bukan kebaikan kita, amal kita, tapi kasih sayang Allah , ampunan Allah, rahmat Allah dan fadlol Nya

Jadi membersihkan janabat bila kita ingin sholat, baca quran dan masuk masjid, wajib hukumnya, begitu pula jika kita ingni masuk kehadirat Allah SWT, kita harus bersuci dari hadats kelalaian kita, artinya kita harus tobat di detik demi detik dan menit demi menit kepada Allah SWT. Ini harga mati.

Yang terakhir,
أَمْ كَيْفَ يَرْجُوْ أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأَسْرَارِ وَ هُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ.
“Bagaimana mungkin diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat dari kekeliruannya?”

kalau kita memahami tentang sirr al asror,maka nanti kita insyaallah dalam berbicara dalam bersikap pasti akan tahu “umpan nggowo papan” . jadi ketika mata hati kita dibuka oleh Allah (kasyaf) , bolehkah kita membicarakan kasyaf pribadi kita pada orang lain? lebih lebih ada orang lan yang belum paham, bolehkah itu? Kata Syeikh Ibnu Athoillah menerangkan, orang yang berani membuka rahasia Allah kepada orang yag belum waktunya, maka orang ini termasuk dikatakan orang yang bodoh. Sahabat Abu Hurairah RA pernah berkata: saya diberi 2 ilmu oleh Allah SWT, satu wajib saya sebar kepada manusia, yang satu wajib saya simpan, karena jika tidak disimpan pasti saya akan dipotong eher nya. Ilmu apakah itu? ilmu dzaqo’iqotl asror, yaitu lembut-lembutnya ilmu hati. Jadi menyimpan rahasia itu wajib. Apalagi rahasia tentang illahi. Kita harus bisa memahami ilmu sirri, jika tidak bisa memahami dan mensikapi ilmu sirri, maka akan merusak dan berbahaya.
Jadi kalau ada orang alim sirri kemudian sembrono / mutahattiq dengan ilmu tersebut, maka akan berbahaya bagi alam semesta.

Ponpes Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah
Pengajian Rutin Ahad
02 Februari 2020
Pukul 18.30

share this :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *