Kajian Kitab Al-Hikam, Hikmah ke 59 – 60, Dosa dan Husnudzon

Pengajian Kitab Al-Hikam | Oleh KH. Ahmad Hasan | Hikmah Ke 59 – 60 | Dosa dan Husnudzon |

Bismillahirrahmanirrahiim,

لَا يَعْظُمُ الْذَّنْبُ عِنْدَكَ عَظَمَةً تَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الْظَّنِّ بِالْلَّهِ تَعَالَىْ؛ فَإِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اسْتَصْغَرَ فِيْ جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبُهُ

“Janganlah membesarkan dosa (dengan suatu) kebesaran (tertentu) di sisimu, (sedemikian rupa sehingga) menghalangimu dari berprasangka baik kepada Allah Ta’ala; karena sesungguhnya barangsiapa mengenal Rabb-nya, maka ia akan menganggap kecil dosanya di sisi kemuliaan-Nya.”

` لاصغيرة اذاقابلك عدله ولاكبيرة اذاواجهك فضله

“Tidak ada dosa kecil jika Alloh menghadapi engkau dengan keadilan-Nya, dan tidak berarti dosa besar jika Alloh menghadapimu dengan karunia-Nya.”

Artinya dalam menjalani proses perjalanan hidup, kita tidak akan pernah sepi dari melakukan perbuatan dosa.
Bagi orang tertentu dosa yang dilakukan itu sedikit, dan diakui hanyalah sedikit atu tak disengaja, bagi orang lain dosa besar itu menjadi konsumsi sehari hari.
Bila kita semua merasakan mengalami situasi dan konsisi yang seperti ini, sebaiknya kita bagaimana mensikapinya? jangan sampai kita salah mensikapi dosa tersebut sehingga nanti walapun kita banyak melakukan kebajikan dan amal ibadah, tetap saja Allah SWT menghadapi dengan keadilannya. Akan tetapi yang kita harapkan dari Allah SWT itumenghadapi kita dengan kasih sayang-Nya .
Karena jika kita dhadapi Allah SWT dengan kasih sayang-Nya, ampunanNya, meskipun kita banyak melakukan dosa dan dosa kita cukup besar maka nanti tidak akan ada gunanya dosa besar yang dilakukan seseorang bila dihadapkan dengan kasih sayang-Nya, kemurahan fadlol-Nya dan ampunan-Nya.
Ini yang mesti kita pelajari, kita tafsil dan kita rinci dan kita pahami, dengan harapan dari kepahaman ini akan menimbulkan kesadaran dan kesabaran dalam mensikapinya.

Sudah sepatutnya kerangka berpikir kita semua ketika menghadapi dosa yang telah kita lakukan ini adalah menyesal dan memohon ampun. Menyesal itu tidak akan terjadi bila kita tidak paham tentang dosa tersebut atau tidak paham dengan efek negatif dari dosa dosa yang kita lakukan. Sehingga karena kita awam memandang tentang dosa ini dan tidak ada sikap tentang dosa ini, maka yang terjadi adalah tidak ada penyesalan dan tidak ada mohon ampun bahkan tidak ada berjanji untuk tidak mengulangi dosa tersebut kembali. Makanya disini, kepahaman, kesadaran terhadap dosa dosa yang kita lakukan suatu keniscayaan.

Ketahuilah bahwa dosa itu berefek dari perilaku, ucapan atau sikap hati yang melanggar aturan Allah SWT. Bila i’tiqod hati kita melanggar aturan Allah. Misalnya, dalam hati ada suatu i’tiqod bahwa Allah itu seperti pohon beringin, nah.. ini sudah merupakan suatu dosa besar, karena kita telah mensekutukan Allah dengan makhluk, yaitu pohon beringin. Atau kit menganggap bahwa selain Allah ada suatu daya kuat. Inilah salah i’tiqod, dan ketika salah i’tiqod tersebut akan timbul dosa.
Atau dibidang perilaku, misalnya Allah melarang manusia untuk mencuri, kemudian kita melakukannya, nah.. ini suatu dosa. Misalnya lagi Allah memerintahkan kita sholat, tapi kita tidak melakukannya, inilah dosa perilaku. Dan yang harus kita pahami selanjutnya adalah bahwa dosa itu akan menimbulkan hijab, akan menjadi tutup hati kita berhubungan dengan Allah. Dosa itu akan menjadi tutup akan turunnya rahmat Allah kepada orang yang berbut dosa tersebut. Dan dosa akan menimbulkan fitnah, bala’ apabila dilakukan secara berjama’ah. Misalnya bencana tsunami, gempa bumi, likuifaksi dan sebagainya. Dan kepahaman yang menimbulkan kesadaran dari memahiami efek dosa itu penting, karena jika tidak, kita tidak akan pernah menyesal dan memohon ampun pada Allah SWT.

Sikap lain yang seharusnya ditimbulkan yaitu, seharusnya orang yang melakukan dosa itu beranggap dosanya ini besar, meskipun dosa yang dilakukannya kecil, karena kalau anggapan itu muncul maka akan menimbulkan semangat penyesalan, semangat mohon ampun dan semangat berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, tapi jika sebaliknya bila menganggap dosa yang kita lakukan itu kecil, remeh , maka nanti efek negatif yang timbul dari pemahaman yang keliru ini dia tidk akan punya semangat untuk menyesal dan istighfar. Dan ini berbahaya.

Kemudian muslim yang baik itu seharusnya setiap melakukan kebajikan-kebajikan dan amalan-amalan yang ia lakukan dianggap kecil, karena nanti kalau amal baik yang begitu banyak mungkin dipandangan orang lain, dihati kita seharusnya dianggap kecil, nanti insyaallah dihadapan Allah akan menjadi besar. Dan sikap baik oang islam dan beriman ini, maka insyaallah akan menimbulkan Allah menghadapi orang ini dengan kasih sayang-Nya, ampunan-Nya, dengan kemurahan dan fadlol-Nya.
Kalaupun kita terlalu remeh dengan dosa kita , dikhawatirkan Allah akan menghadapi orang tersebut dengan keadilannya. Jikalau menghadai Allah dengan keadilan-Nya, tidak ada dosa kecil sekaligus tidak ada amal ibadah yang besar. Bila berhadapan dengan murka-Nya.

Kesimpulannya, roja’ dan khauf dalam menjalani kehidupan ini haruslah berimbang, roja’ adalah selalu menganggap besar, selalu menganggap sifat-sifat baik Allah , kemurahan , kasih-sayang Allah meliput segala sesuatu. Dan ini harus diyakini dengan sebenar-benarnya. Dan kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Sebesar-besar dosa kita masih besar kasih-sayang Allah SWT. Sedangkan khauf adalah rasa takut dsebabkan karena kita banyak melakukan dosa baik dosa besar dan dosa kecil.

Pelaksanaannya bagaimana? Apakah roja’ terlebih dahulu atau khauf terlebih dahulu? Sebaiknya , menurut kami adalah khauf dulu baru roja’ . Ketika kita melakukan dosa harus dianggap besar kemudian takut, nanti jangan-jangan dosa ini menjadi segunung masalah yang akan menimpanya. Kemudian setelah itu haruslah diiringi dengan penyesalan dan mohon ampun kepada Allah. Hal ini dilakukan dengan diiringi rasa takut. Tapi tidak boleh sampai kepada titik timbulnya rasa putus-asa karena terlalu berlebihan ketakutnnya.

Ada contoh penyesalan yang salah yang bisa menimbulkan kejelekan , jadi kalau kita sudah merasakan karena terus kita dorong untuk merasakan ketakutan saat melakukan dosa , jangan terus didorong terus sampai rasa putus asa, kalau sampai pada situasi menuju putus asa, maka, hidupkanlah rasa roja’. Caranya , pandanglah sisi sifat kasih sayang Allah, pandanglah sisi sifat kemurahan Allah, dan pandanglah ampunan Allah yang meliputi segala sesuatu. Kalau hal ini yang terus kita baca, kita lihat dan kita renungi maka nanti akan timbul roja’, harapan baru. Karena kalau melakukan dosa dan timbul rasa takut terus , putus asa, maka akan su’udzon pada Allah , dikira Allah tidak punya sikap baik, Allah tidak mau mengampuni.
Jangan juga sebaliknya, menempatkan roja’ diawal. Ketika roja’ diawal dilakukan terlebih dahulu dikawatirkan akan menjadi lengah dan sepele, sehingga masih terus melakukan perbuatan dosa.
karena kecenderungan orang melakukan dosa itu sesuai firman QS. Al Baqarah 80 :

وَقَالُوْا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ اِلَّآ اَيَّامًا مَّعْدُوْدَةً ۗ قُلْ اَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللّٰهِ عَهْدًا فَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ عَهْدَهٗٓ اَمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan mereka berkata, “Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.” Katakanlah, “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah, sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, ataukah kamu mengatakan tentang Allah, sesuatu yang tidak kamu ketahui?”

iniah kebiasaan orang kufur nikmat, diingatkan menjadi tambah sombong.

Jadi khauf dan roja’ haruslah seimbang, kita lihat, kita perhatikan dan kita hidupkan. Jadi seharusnya kita dalam kehidupan sehari ini harus sering bertafakkur. Bertafakkur membayangkan keadilan Allah SWT. Allah selain memiliki sifat kasih sayang, ingat Allah pun juga memiliki sifat Al-Qahar (maha pemaksa) dan sifat All Muntaqim (maha penyiksa), dan semua sifat ini berlaku bagi semua siapa saja yang dikehendaki. Maka ketika kita sembrono bersikap , berperilaku jangan-jangan kita akan berhadapan dengan keadilan Allah . dan berhadapan dengan sifat Allah tersebut.

Kecenderungan manusia itu selalu membuat dosa , pun ketika orang yang banyak melakukan amal baik, sampai lupa diri , bahwa bisa melakukan amal baik itu karena diberi bisa, diberi kekuatan oleh Allah. Hal ini bisa menimbulkan sombong dan bangga diri. Lebih baik orang yang berdosa dan berendah diri daripada orang yang beramal baik tapi sombong. Sebenarnya yang baik adalah tidak berdosa dan rendah diri, akan tetapi hal ini tidak mungkin , manusia disuruh untuk tidak berbuat dosa itu tidak mungkin, karena manusia sudah ditanamkan nafsu dalam susunan dirinya.
Kalaupun memang sudah terjadi, maka ketika berdosa, sebaiknya kita rendah hati, menyesal dan mohon ampun pada Allah itu lebih bak daripada orang bnyak melakukan kebaikan tapi merasa bisa dan merasa mampu tidak berasal dari pemberian Allah. Ini lebih tercela dari orag yang berdosa dan berendah diri. Karena bahayanya orang yang banyak ibadah tapi ujub, akan jauh dari Allah SWT. Karena ujub dan bangga diri adalah hijab yang tebal dari kita bisa sambung pada Allah. Dan Al-Kibriya (maha kebesaran) itu hanya milik Allah. Innanii Anallahu Laa Illahila.

Dikatakan oleh Nabi SAW : “demi dzat yang jiwaku berada dalam gennggamanny, seandainya kalian sama sekali tidak berbuad dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian. Dan kalian akan diganti oleh Allah dengan kaum yang baru yang melakukan dosa kemudian mohon ampun kepada Allah, dan Allah mengampuninya.”

Bahkan dalam mensikapi apa yang sudah diterangkan sebelumnya, kita semua seyogyanya memiliki suatu doa atau munajat kpada Allah. Munajat ini muncul dari rasa kerendahan hati kita, karena kita merasa banyak salah dan dosa atau mungkin kita ambil contoh ratapan-ratapan orang dahulu seperti Syeikh Yahya Bin Mu’adz berikut, “Yaa Tuhanku jadikanlah kejelekanku keburukanku seperti keburukan orang yang panjenegan cintai” . Siapa orang yang dicintai tersebut? adalah orang yang melakukan dosa tapi merendahkan diri dihadapn Allah, menyesal dan mohon ampun kepada Allah. “Janganlah jadikan kebaikan saya, amal baik saya seperti orang yang panjengan murkai”. Siapa orang yang dimurkai? orang yang banyak melakukan kebaikan, tapi merasa mampu melaksanakan kebaikan tu, tidak merasa diberi mampu melakukan kebaikan. “Kebaikan itu akan tidak ada gunanya jika disertai dengan murka Engkau Yaa Tuhanku. Begitu pula keburukan itu tidak akan ada bahayanya jikalau berhadapan dengan cintaMu”

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Ponpes Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah
Pengajian Rutin Ahad
09 Februari 2020
Pukul 18.30 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *