Kajian Kitab Al-Hikam, Hikmah Ke-42, Sifat Bashariyyah dan Sifat Ubuddiyah

Pengajian Kitab Al-Hikam | Oleh KH. Ahmad Hasan |  Hikmah Ke-42 | Sifat Bashariyyah dan Sifat Ubuddiyah.

Bismillahirrahmanirrahim

Maqolah ini perlu kita renungi dengan sedalam-dalamnya, nanti diharapkan dari hasil perenungan ini betul-betul bisa menambah pemahaman, penghayatan dan menambah pembelajaran kita didalam menjalani proses suluk kepada Allah SWT.

Syeikh Ibnu Atho’illah berkata :

اُخْرُجْ من اَوْصافِ بَشاَرِيَّتِكَ عنكلِ وَصْفٍ مُنَا قِضٍ لِعُبُودِيَّتِكَ لِتَكُونَ لِنِدَاءِ الحَقِّ مُجِيبًا ومنْ حَضـْرَتِهِ قـَريْباً

“Keluarlah dari sifat-sifat kemanusianmu [sifat buruk dan rendah], semua sifat yang menyalahi kehambaan-mu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Alloh dan mendekat kepada-Nya.”

Mengapa kita harus keluar dasi sifat-sifat kemanusiaan yang bertentangan dengan sifat kehambaan? ternyata disini ada tujuan apabila kita diberi mampu unuk keluar dari sifat-sifat kemanusian tersebut, yaitu bertujuan untuk littaquuna….yaitu agar mampu memenuhi apa-apa yang menjadi undangan Allah terhadap kita.

Kira-kira apa sifat yang bertentangan dengan sifat kehambaan ini? Sebenarnya sifat ini terdapat didalam dua jiwa, pertama jiwa amaroh dan jiwa lawwamah. Perlu diingat kembali, jiwa itu jumlahnya ada tujuh, jiwa ini tersusun didalam diri kita semua.

Jadi jiwa yang harus dihindari dan kita harus kelur dari zonanya adalah jiwa amaroh dan jiwa lawwamah. Jiwa amaroh adalah jiwa yang cenderung mengajak kepada kejahatan, jiwa yang mengajak kedurhakaan kepada Allah. Mengajak tidak melaksanakan perintah Allah dan mengajak untuk melanggar larangan Allah.

Sedangkan jiwa lawwamah adalah jiwa yang cenderung untuk mencela. Apapun yang tidak sesuai dengan kehendak akan selalu dicela. Yang di cela ini bukan saja orang yang selevel dengannya, bukan hanya orang yang dibawahnya saja bahkan orang yang notabene level keilmuaannya, level ibadahnya diatas dirinya, akan selalu dicela olehnya. Dicela, direndahkan , difitnah dan macam-macam.

Dan dua jiwa inilah yang kita harus keluar daripadanya. Caranya bagaimana, dengan bermujahadah li nafs,, yaitu berperang dengan berperang melawan jiwa tersebut. Ketika jiwa tersebut mengajak berbuat jahat, harus kita tentang. Ketika jiwa tersebut mengajak untuk cinta dunia, kita tentang. Inilah sama dengan sikap menghindar dari zona kewajiban dunia, keluar dari sifat yang bertentangan dengan kehambaan manusia. Kadang ketika melakuakan kebaikan , muncul rasa bangga diri, timbul sombong. Padahal bangga diri, sombong , sifatul izzah wa istiqbaron, ini adalah sifat rububiyyah, hanya milik Tuhan. Barang siapa menempati kedudukan disifat Tuhan ini, maka amal ibadahnya akan lenyap. Makanya kita tidak boleh menempati sifat rububbiyah tersebut.

Pada maqolah ini setelah kita diajak keluar, maka hadiahnya diberi kepekaan, kepekaan untuk memenuhi apa yang menjadi undangan Allah SWT. Maka jika kita bisa seperti itu otomatis kita akan dekat denganNya.

Sifat-sifat kemanusiaan yang berhubungan dengan agama itu ada dua, ada yang bersifat lahiriyah dan bersifat batiniyyah.

Yang bersifat lahiriah itu menjalankan perintah Allah, ini dinamakan taat. Yang kedua yang berkaitan dengan larangan, jadi ini disebut maksiat. Jika perintah kita dekati dan larangan kita jauhi  maka kita akan menempati zona ubudiyah dan sifat penghambaan kepada Allah.

Kemudian sifat batiniyyah ini bisa dibagi menjadi dua lagi, yaitu berkaitan dengan hakikat dan yang berlawanan. Yang berkaitan dengan dengan hakikat adalah iman dan ilmu. Ketika didalam hati kita ada iman berarti kita telah memenuhi sifat sifat penghambaan kepada Allah. Tapi bila berlawanan dengan sifat hakikat, berarti sifat ini termasuk kemunafikan dan kebodohan. Jadi ketika kita menempati kriteria orang munafik, akan berbicara bohong, dipercaya tidak amanah, jika berjanji tidak menepati. Bila kita mengalami hal seperti ini, ada yang salah dengan hati kita. Ketika kita malas, ketika kita suka berjanji tapi ingkar inilah kita sedang dilanda kebodohan dan kemunafikan, dan ini pulalah yang bertentangan dengan hakikat.

Semua ini tadi, kita tidak akan mampu menghindar dan keluar dari zona yang bertentangan dengan sifat kehambaan, jika hati kita tidak ada cahaya. Ketika hati bercahaya, maka akan membuka tabir keberadaan situasi sekitar. Ketika hati tak memiliki cahaya maka tidak akan bisa membedakan yag baik dan buruk, tidak akan bisa membedakan mana yang bermanfaat untuk kita saat dikerjakan dan mana yang tidak bermanfaat. Cahaya itu adalah pembuka misteri. Sedangkan mata hati itu masalah hukum, pemberi masukan.

Jadi ketika kita ingin bisa keluar dari sifat kemanusiaan menuju sifat penghambaan kepada Allah maka hati kita harus bercahaya, bersih . Jika hati bercahaya maka mata hati bisa melihat apa yang terjadi dalam hati kita semua, mata hati bisa mengidentifikasi bahwa hati lagi gelap karena cinta dunia, hati lagi gelap karena habis ngrasani dan sebagainya. Jadi sombang, bangga diri, su’udzon, riya’, pamer, hasud, atau dengki, semua itu adalah kegelaan hati. Kita berpikir tentang duniapun merupakan tanda kegelapan hati.

Cerita Syeikh Junaid Al Baghdahi suatu saat tahu orang yang alim dan ahli ibadah, cuma  suatu ketika Syaikh Al Baghdadi ini bertemu orang alim dan ahli ibadah disuatu pasar yang lagi meminta-minta, dan terbesit dalam benak beliau, duh, sayang sekali , orang se-alim ini minta-minta ke orang lain di pasar, seandainya tidak meminta-minta pasti akan menjadi orang yang mulia.

Kemudian setelah punya pikiran begitu, Syeikh Al Baghdadi ini keesokan harinya tidak kuat melakukan sholat berjamaah, tidak kuat untuk melakukan kebaikan. Dan bermimpi, beliau melihat ada orang alim tersebut dagingnya dimakan oleh orang dalam suatu kerumunan. Karena menggunjing orang itu ibarat memakan daging bangkai temannya sendiri. Dalam mimpi itu Syeikh Junaid merasa jijik dan akhirnya terbangun. Dan seketika itu melakukan taubat, karena merasa diberikan isyaroh bahwa ketika Syeikh Junaid tadi melakukan penggunjingan kepada orang alim dipasar tadi ibarat seperti memakan bangkai orang yang digunjing tersebut.

Mari kita bayangkan pada diri kita, kita selalu menggunjing kepada orang lain, dan ini sudah menjadi kebiasaan bagi kita. Dan bila kita tidak segera taubat, maka kita akan merasa lemah dalam memenuhi hak-hak Allah. Ini merupakan satu hal yang telihat remeh akan tetapi pengaruhnya begitu besar, efek negatifnya terlalu besar. Dosa batin itu lebih besar dari dosa lahir. Setetes Ibadah Hati Itu Lebih Baik Dari Segunung Ibadah Lahir.

Kita seharusnya merasa beruntung dan harus bersyukur disini, dipertemukan dengan Murabbi Ruh kita, yang selalu mendidik kita untuk selalu membersihkan dan memperhatikan hati kita dari penyakit-penyakit hati dan kotoran-kotoran hati. Dan beliau mendidik ini dengan begitu lembutnya.

Jika ibadah itu timbul dari hati yang bersih, kita akan berbahagia. Dan jika ibadah timbul dari hati yang keruh, janganlah kau merasa bahagia. Jangan berbahagia saat kamu habis melakukan ibadah , tapi kamu merasa ibadah itu muncul dari usahamu. Saat kamu merasa mampu melakukannya itu gak ada gunanya. Saat merasa bisa beribadah merasa mampu beribadah maka akan menghancurkan ibadah itu sendiri.

Kalau kita diberi anugerah mampu ibadah, tapi tidak merasa mampu dalam beribadah dan beribadah dengan didasari perasaan ini, maka berbahagialah. Ini ibadah yang mudah dikabulkan oleh Allah. Inilah landasan beribadah dan beramal yang benar.

Dasar melakukan amal ibadah itu ada 5, karena Allah, tujuanya Allah, atas landasan senang melaksanakannya, ikhlas dan tawaddu’.

Karena Allah ini adalah kita diberi hidup, semisal tidak diberi hidup, apa bisa kita melakuakan apa-apa?. Karena kita diberi mampu dan diberi mau untuk melakukan ini. Ini semua karena fadhlol dari Allah SWT.

Dan terakhir, supaya hati bersinar dan matahati bisa melihat kesalahan atau kebenaran yang diberikan kepada kita, diantaranya kita harus menjalankan ngaji seperti ini, riyadloh supaya biberi bisa dekat dengan Allah SWT.

Beristighfar setiap hari, habis melakukan dosa beristighfar, habis melakukan kebakan pun juga harus beristighfar. Istighfar karena mungkin karena ada kurang pasnya hati. Niat ibadahnya kurang pas, tujuan ibadahnya kurang pas, belum ikhlas, belum senang, belum tawaddu’. Mendapat nikmat besarpun harus beristighfar, jangan jangan timbul rasa sombong, bangga diri. Sikap ini pun telah dibimbing oleh Allah


اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ
Apabila telah datang pertolongan Allah dan  kemenangan
وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ
dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا
maka bertasbihlah dalam dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat

Jadi istighfar , membaca sholawat dan kalimat tauhid bagi orang orang yang berjalan menuju Allah adalah suatu kebutuhan. Kalau kebutuhan berarti kita semua tidak bisa ditinggal.

Ponpes Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah

Pengajian Rutin Ahad16 Februari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *