Kajian Kitab Al-Hikam, Hikmah ke-91 dan 92, Al-Qabdhu dan Al-Basthu

Pengajian Kitab Al-Hikam | Oleh KH. Ahmad Hasan | Hikmah ke-91 dan 92 | Al-Qabdhu dan Al-Basthu

Bismillahirrahmanirrahim,

العَارِفوُنَ اِذاَ بُسِطوُ اَخـْوَفَ مِنْهُمْ اِذاَ قبَضَُوا وَلاَ يَقِفُ علىَحُدُودِ الاَدَبِ فى الْبَسْطِ الاَّ قلِيْلٌ ٭
91. “al-‘Arifun(Orang yang ma’rifat billah) jika merasa lapang, itu lebih khawatir/takut kepada Alloh, dari pada jika berada dalam kesempitan, dan tidak dapat berdiri tegak dibatas-batas adab dalam keadaan lapang (basthu) kecuali hanya sedikit sekali”.

Disini ada maqolah , yang maqolah ini perlu kita renungkan , sebagai bahan pertimbangan didalam membaca dan memahami tiap-tiap kondisi yang kita alami maupun kondisi orang lain yang butuh kita ambil pelajarannya. Jadi dalam memahami kondisi orang lain bukan untuk kita nilai kita caci dan kita laknat, akan tetapi kita melihat kondisi orang lain untuk kita ambil pelajarannya. Ini sebagai bekal kita untuk menjalani proses suluk kita kepada Allah SWT.

Dalam satu kondisi orang yang telah diberi makrifat kepada Allah, hatinya sudah tersambung dengan af’al Allah dengan sifat-sifat Allah, maka dari itu orang tersebut selalu diberi kelapangdadaan, penuh ridho dan kesabaran didalam menerima tiap-tiap situasi dan tiap-tiap kondisi dirinya sendiri dan kondisi keluarganya, juga memahami tiap-tiap kondisi orang lain.

Dan orang makrifat punya sikap sendiri pada setiap kondisinya sendiri dan orang lain, yang tidak sama seperti sikap-sikap orang lain yang belum diberi makrifat.

Orang makrifat itu,  اِذاَ بُسِطوُ اَخـْوَفَ مِنْهُمْ اِذاَ قبَضَُوا     ketika ia diberi kelapangan, ia akan merasa khawatir daripada mereka saat diberi kesempitan. Sikap orang umum akan lebih memilih kondisi dia itu diberi lapang terus, walaupun disisi lain ia tidak pernah memikirkan bahayanya ketika manusia diberi lapang terus, sehat terus, apa yang menjadi kebutuhannya terpenuhi terus. Memang dari satu sisi baik, tapi sebenarnya dari sisi yang lain bisa membahayakan.

Perlu kita ketahui bahwa Fir’aun sampai berani mengaku Tuhan diantara penyebabnya mulai dari kecil sampai dia mengangkat dirinya sebagai tuhan itu dia tidak pernah sakit. Jadi nggak pernah kebutuhannya itu tidak terpenuhi. Ini berarti dalam kondisi lapang.

Orang-orang yang makrifat kepada Allah, mereka ini lebih khawatir jika mereka diberi kondisi lapang daripada saat mereka diberi kondisi sempit. Mereka lebih seneng dan bahagia , bahkan kondisi sempit itu bagi orang yang makrifat billah itu bagaikan hari raya. Hari raya mereka itu adalah pada saat kondisi sempit kemudian dihatinya muncul rasa butuh kepada Allah. Butuh akan ampunannya , butuh akan pemberiannya dan butuh segala macam yang mereka butuhkan. Inilah orang yang Arif Billah.

Jadi sebagian besar itu banyak lalainya kepada Allah daripada ingatnya kepada Allah, daripada penghambaan dirinya kepada Allah. Dan pada kondisi seperti ini banyak dialami oleh orang orang yang ahli mendekat pada Allah. Makanya karena mereka merasakan sendiri efek negatif dari terlalu banyak lapang, maka mereka menyatakan. Jadi kondisi mereka lebih suka saat sempit daripada saat lapangnya.

Contohnya terdapat dalam surat


لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ


Allâh telah menolong kalian dalam banyak kesempatan. Dan ingatlah ketika perang Hunain, saat kalian merasa takjub dengan banyaknya jumlah kalian. Akan tetapi itu tidak berguna sedikitpun bagi kalian, sehingga bumi terasa sempit bagi kalian dan kalian lari tunggang-langgang. [At-Taubah/9:25].

disini menceritakan kondisi para sahabat dulu saat perang hunain. Disaat kalian mengandalkan banyaknya jumlah kalian dalam perang ini, disaat jumlah orang kafir. Bahkan secara lahir saat itu orang islam jumlahnya hampir dua kali lipat dari orang kafir, posisi islam kuat, ustru pada saat itu orang islam mengalami kekalahan, berbeda dengan saat perang badar yang kondisinya justru kebalikannya. Tapi saat perang Badar orang islam itu benar-benar menyerahkan dirinya kepada Allah SWT. Yang terjadi adalah wakamim gholbatin…..bahwa banyak golongan yang kecil , golongan yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak karena ijin Allah. Mengapa ijin Allah turun? Dikarenakan disaat itu betul-betul totalitas penyerahan diri dan totalitas penyerahan urusan kepada Allah sangat luar biasa.

Disaat sebaliknya, tidak ada totalitas penyerahan diri kepada Allah, yang diandalkan banyaknya jumlah, maka banyaknya jumlah todak memberikan manfaat sama sekai.

Disaat dahulu raja jalut dihadapi dengan raja thalut, dengan keadaan pasukan raja thalut yang amat sedikit, bisa mengalahkan raja jalut yang jahat, dikarenakan totalitas penyerahan kepada Allah SWT sepeti yang disebutkan dalam surat Al Baqarah 246-251

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


Kemudian maqolah berikutnya


٭ البَسْطُ تاءْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهاَ بِوُجُودِ الفَرَحِ والقبضُ لاَ حَظَّ للنَّفْسِ فِيْهِ ٭

92.” Didalam keadaan lapang (bashtu),hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam keadaan sempit (qobdhu) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu”.

Jadi orang itu ketika diberi kelapangan oleh Allah, kelapangan ilmunya, kelapangan rezekinya dan kelapangan yang lain-lainya maka orang yang lapang ini cenderung banyak kelirunya, cenderung banyak salahnya.

Makanya orang makrifat billah lebiih khawatir saat diberi kelapangan.

Bukti lain adalah yang tertera pada surat An-Nashr,,idzaa jaa anash

Jadi ketika pertolongan Allah nyata terbuka, orang-orang kafir banyak yang berbondong-bondong masuk islam, satu yang perlu diingat..fasabbih bihamdirobbika, maka sucikanlah nama tuhanMu dengan memuji tuhanMu.

Makanya ketika kita mendapatkan rahmat dari Allah kita harus menambahkan rasa syukur kita ‘alhamdulillah’ . Kita diingatkan disini oleh Allah dalam surat An Nashr ini. Jangan lupa kesuksesan ini yang memberi adalah Allah , untuk itu yang utama yang harus kita hadirkan ketika kit diberi anugerah sukses adalah bersyukur alhamdulillah. Ini penting untuk kita tanam didalam lubuk hati kita, dan bila dihati kita ada cahaya tauhid maka otomatisasi lisan kita akan mengatakan ‘alhamdulillah’.  Inilah hal pertama yang harus dilakukan ketika orang mendapatkan anugerah. Nomor duanya adalah wastaghfir, mintalah ampun kepada Allah.

Mengapa orang yang diberi rahmat kok malah diminta mohon ampun, karena kecenderungan saat orang diberi rasa lapang, orang itu banyak kelirunya daripada banyak benarnya.
Kesimpulannya akan terjadi futuhat atau turunnya anugerah yang sangat luar biasa. Artinya kita semua jika kita mendapat rahmat dari Allah wajib baginya untuk memuji Allah, supaya tidak ada potensi untuk menduduki daya kekuatan Allah SWT. Tidak merasa memiliki kemampuan untuk melakukan segala sesuatu jika tidak diberi mampu oleh Allah. Karena hanyalah Allah yang memiliki rahmat dan fadlol.

Ponpes Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah

Pengajian Rutin Ahad

23 Februari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *