Forum
Tanya jawab / Diskusi
 
Agenda
Agenda tahunan
Kegiatan
Kegiatan keagamaan
download

Download
Acara / Kegiatan downloa


 
 
 
« Juli 2014 »
S S R K J S M
30 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
 
   
  Pembina : KH. Ahmad Hasan, Gus H. Ahmad Syukron Al-Haqiqi, Gus Nur Fauzan Akmal, ST. Staf Ahli Redaksi : Drs. Qomar Baihaqi, MSc, Drs. Kisyanto, MA. Dr. Sujitno, MPH. Pemimpin Redaksi : Gus Iphoeng HD Purwanto, Sekretaris Redaksi : Nur Handriyanto Redaktur Pelaksana : Ari Fandy Sidang Redaksi : Gus Iphoeng HD Purwanto, Nur Handriyanto, Ari Fandy, Firman Rudiansyah, Abdul Razaq, Asrullah, Ahmad Subhan, Ali Audah, Agus Santosa, Aning AK, Dewi Farema, Updating Data: Gus Iphoeng HD Purwanto, Warjana, Abdul Razaq, Firman R, Designer Website: Warjana Studio's Alamat Redaksi : Jl. KH. Wahid Hasyim Gg. Anggur No.10 RT 07 / RW 06 Telp. 0341-828106 Sananrejo, Turen, Malang 65175 Jawa Timur  
Untitled Document
FAQ (Frequently Asked Questions) Tentang Pondok
home - FAQ Pondok

FAQ (Frequently Asked Questions)
Pertanyaan yang sering disampaikan oleh pengunjung/tamu pondok

Oleh : H. Mughni


Pengantar

Para tamu dan pengunjung, termasuk jamaah terutama yang baru, karena keingin tahuannya banyak mengajukan pertanyaan seputar pondok. Disamping itu terkesan banyak tamu dan pengunjung pondok yang telah menerima informasi tentang pondok yang kurang sesuai.
Tulisan ini merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang selama ini banyak diajukan oleh berbagai pihak. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi yang benar tentang pondok dan dapat meluruskan tersebarnya informasi yang tidak tepat. Dengan memahami tulisan ini para jamaah diharapkan dapat meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat yang tidak sesuai dengan kenyataan di pondok.
Untuk memudahkan, berbagai pertanyaan yang ada kami kelompokkan menjadi

  1. Pertanyaan yang bersifat umum
  2. Pertanyaan yang berhubungan dengan pengasuh pondok
  3. Pertanyaan yang berhubungan dengan santri dan jamaah
  4. Pertanyaan yang berhubungan dengan bangunan dan pembangunan pondok.
  5. Pertanyaan yang berhubungan dengan amalan
 
I. Pertanyaan yang bersifat umum
Pertanyaan :

Apa tujuan membangun pondok yang begini besar yang tentu saja sangat mahal dan memerlukan biaya yang sangat besar. Bukankah lebih baik untuk dipakai dalam kegiatan sosial yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Misalnya tempat pendidikan, untuk yatim piatu, bea siswa bagi yang tidak mampu?

Jawab :
Pondok ini dibangun agar dapat untuk dijadikan sarana / alat/ media untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit hati diantaranya iri, dengki, riya’, ujub, hasut, suudhon, merasa benar sendiri, merasa pintar sendiri, serakah, tamak dan rakus dunia dan lain lain yang secara umum diketahui merupakan penyebab ditolaknya amal ibadah. Dengan dibersihkannya penyakit hati diharapkan: agar muncul rasa dekat kepada Allah dan cinta kepada Allah akan bertambah.  Kalau hati kita dekat kepada Allah akan dirasakan, diantaranya,  dalam bentuk hati yang tenang, damai, sejuk, nyaman, bahagia seperti tidak ada masalah. Sedangkan hati yang tenang merupakan modal yang sangat berharga untuk menjalankan kehidupan didunia yang selanjutnya hati yang tenang membentuk jiwa yang tenang agar dapat memenuhi panggilan Allah dengan penuh ridho dan diridhoi Allah dan selanjutnya dapat dimasukkan kedalam golongan hambaNya dan dipersilahkan memasuki surgaNya.
Bertambahnya rasa dekat dan rasa cinta kepada Allah secara otomatis akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Allah. Dengan rasa dekat dan rasa cinta kepada Allah manusia dapat melakukan amal ibadah tanpa paksaan bahkan dengan keikhlasan seperti ikhlasnya seorang ibu dalam merawat putranya yang baru lahir. Dengan demikian berbekal rasa dekat dan rasa cinta kepada Allah manusia dapat menjalankan tugas pengabdian di dunia dengan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain tanpa merasa pernah berbuat. Bukankah sebaik baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain?
Selanjutnya rasa dekat dan rasa cinta kepada Allah akan terwujud dalam kehidupan sehari hari dalam bentuk rasa kasih sayang kepada sesama makhluk. Dengan cinta dan kasih sayang diharapkan muncul dorongan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dengan ikhlas. Dengan kasih sayang dan cinta diantara sesama makhluk akan membntuk suasana masyarakat yang tenang dan damai yang selanjutnya akan mewujudkan perdamaian di dunia tidak hanya bagi ummat islam tetapi bagi seluruh hamba Allah. Bersihnya hati dari berbagai penyakit hati akan merubah / memperbaiki peri rasa, peri akal dan peri laku manusia menjadi lebih baik dan selanjutnya akan membentuk akhlakul karimah.
Didalam tubuh manusia terdapat segumpal darah; kalau dia baik semuanya baik; kalau dia jelek semuanya akan jelek. Itulah hati – qolbu. Filosofi atau tuntunan ini yang mendasari dibangunnya pondok. Alhamdulillah menurut hampir seluruh pengunjung diwawancarai dan dari kesan yang ditulis bisa merasakan mendapatkan kedamian, ketenangan, lebih dekat kepada Allah, rasa iri, dengki, riya’, ujub terasa berkurang bahkan ada yang hilang. Keimanan dirasakan bertambah. Bahkan tidak jarang yang mendapat fadhol dalam bentuk kesembuhan penyakit. Menurut para pengunjung yag sudah beberapa kali ke pondok barokah yang didapat dari pondok juga tersalur kepada keluarga maupun tetangga serta teman sekerja di kantor. Mereka merasakan suasana di rumah jauh lebih tenang. Sekap dan perilaku tetangga maupu teman sekerja menjadi lebih akarab dan menyenangkan.
Urian tersebut diatas beserta apa yang dirasakan oleh jutaan tamu pondok adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri dan terbantahkan. Sulit untuk dinilai manfaat dan harganya dalam uang. Urusan membersihkan hati merupakan arusan akirat yang tidak bisa dibandingkan dengan urusan dunia yang sifatnya sementara dan semu.
Pertanyaan :
Apa visi  pondok ini?
Jawab :

Romo Kyai Ahmad beserta seluruh santri dan jamaahnya mempunyai mimpi agar setiap orang yang masuk ke pondok hatinya bertambah dekat dan bertambah cinta kepada Allah.

Pertanyaan :
Apa misi pondok ini dengan membuat bangunan seperti ini?
Jawab :

Ihtiyar agar setiap orang yang masuk ke pondok hatinya terbersihkan`secara otomatis, tidak disadari

Pertanyaan :

Apa yang dikerjakan di pondok untuk mencapai visi dan misi tersebut diatas? Bagaimana caranya?

Jawab :

Berihtiyar membangun sarana / alat / media yang dapat dipakai untuk membersihkan berbagai penyakit hati berupa bangunan pondok.
Berihtiyar mengerjakan berbagai kegiatan yang bersifat ubudiyah yang ditujukan untuk semua ummat.
Berihtiyar menjalankan berbagai kegiatan yang bersifat amaliah yang diperuntukkan bagi semua ummat.
Berihtiyar menerapkan akhlakul karimah dalam menjalankan kehidupan sehari hari dalam berhubungan dengan: diri sendiri, dengan Allah, dengan sesama santri, jamaah dan tamu pondok,  dengan lingkungan dan dalam mengerjakan kegiatan pembangunan di pondok.
Berihtiyar mendalami ilmu yang bersifat praktikal dalam berupaya untuk menghilangkan berbagai penyakit hati.
Secara sederhanya yang dikerjakan di pondok hanyalah: Gawe bungahe wong ndonyo akhirat. Membuat orang bahagia dunia dan akhirat dengan cara membersihkan hatinya dari berbagai penyakit hati yang menghijab dirinya dengan cara yang cepat, mudah  dan murah yaitu melalui bangunan pondok beserta seluruh isinya.

Pertanyaan :

Apa amalan khusus yang dikerjakan di pondok?

Jawab :

Secara umum amalan yang bersifat ubudiyah sama dengan amalan yang umumnya dikerjakan di pondok seperti: membaca Al Qur’an, berbagai macam sholat baik yang wajib maupun yang sunnah, dzikir, puasa, diba’an, yasinan dsbnya.
Amalan yang bersifat amaliah  adalah membuat sarana ( dalam bentuk bangunan ) yang dapat dipakai untuk membersihkan berbagai penyakit hati yang ditujukan untuk nggawe bungahe tiyang ndonyo akherat ( membuat bahagianya orang dunia dan akhirat ) bagi siapapun yang datang ke pondok. Disamping itu secara fisik siapapun yang datang ke pondok dapat menikmati semua fasilitas yang ada di pondok dengan mudah dan murah tanpa biaya apapun.

Pertanyaan :

Harapan apa yang ingin dicapai dengan membangun pondok ini?

Jawab :

Dengan dibersihkannya hati dari berbagai kotoran hati yang terwujud dalam berbagai penyakit hati ( riya’, ujub, iri, dengki, suudzon, tomak, tamak, takabur, merasa lebih diri dsbnya ) diharapkan akan muncul rasa dekat dan rasa cinta kepada Allah. harapan selanjutnya:

  • Iman dan taqwa akan bertambah
  • Nur Iman dan Nur Islam lebih mudah terserap
  • Menjalankan ibadah lebih menyenangkan, tidak terpaksa
  • Sifat kehambaan akan tumbuh
  • Muncul rasa damai, tenang dan tenteram dihati sebagai modal untuk menjalankan kehidupan sehari hari
  • Muncul rasa kasih sayang kepada sesama; kebencian dan kekerasan semakin berkurang sebaliknya tumabuh rasa saling pengertian dan saling solong menolong, saling membambantu dan saling menghargai sehingga tercipta perdamaian tidak hanya dikalangan ummat islam bagi semua.
  • Perilaku, periakal dan perirasa semakin baik sehingga terbentuk aklaqul karimah.
Pertanyaan :
Apakah pondok mempunyai aliran tersendiri diluar yang dikenal secara luas pada saat ini?
Jawab :

Pondok menganut aliran yang banyak dijalankan oleh pemeluk Islam pada umumnya di Indonesia. Pondok ini merupakan pondok salafiyah. Berhaluan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah . Beperdoman pada: Qur'an, Hadis, Ijmak dan Qiyas. Buku kajian yang dipakai di pondok diantaranya: Hikam, Minahus Saniyah,  Nashaa-ihul ‘Ibad,  Jawaahirul Bukhari,   Tafsir Jalalain dan lain-lain.
Catatan yang sangat penting untuk diketahui adalah bahwa: pondok memegang teguh prinsip prinsip salafiyah dan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah namun tidak merasa paling benar sendiri. Kami menghormati, menghargai, berteman dan bergaul dengan siapa saja tanpa melihat aliran, mashab dan lain lainnya. Kami menyadari bahwa jalan menuju kepada Allah sejumlah bilangan makhluk jumlahnya. Sebagai wujud dari islam yang bersifat rahmatan lil alamin kami juga menghormati dan menghargai serta menerima penganut aliran kepercayaan dan agama non islam yang berkunjung ke pondok dengan catatan tidak memasuki mushollah dan masjid yang merupakan wilayah khusus bagi ummat islam dan tidak menyebarkan keyakinannya.

Pertanyaan :
Berbeda dengan pondok pesantren yang lain kami tidak melihat adanya kelas dan kamar kamar santri di pondok ini. Bagaimana penjelasannya?
Jawab :

Pondok ini memang belum dibuka untuk umum karena belum ada pendidikan formalnya. Santri yang diterima berusia diatas lulusan SMA dan yang menginginkan untuk menyelesaikan masalah pribadi. Itulah sebabnya jumlah santrinya masih sangat sedikit baru sekitar 200 orang yang terdiri dari santri yang belum baliq yaitu anak dan cucu dari santri yang sudah berkeluarga, santri dewasa bujang putra dan putri dan santri yang sudah berkeluarga. Santri bujang putra berada di lantai dasar. Santri bujang putri berada di lantai empat. Santri yang sudah berkeluarga masing masing diberi satu guthekan yang tersebar diberbagai tempat didalam lingkungan pondok. Karena belum ada pendidikan formalnya secara otomatis juga belum ada fasilitas seperti layaknya sekolah / pondok pesantren.

Pertanyaan :

Mengapa namanya pondok panjang sekali? Nama pondok itu artinya apa?

Jawab :

Pemberian nama pondok sebagai: PONDOK PESANTREN SALAFIYAH BIHAARU BAHRI ‘ASALI FADHLAAILIR RAHMAH didasarkan atas hasil istikharah. Tidak dikarang sendiri. Nama pondok disingkat dengan Pondok Bi Ba’a Fadlrah. Secara harfiyah dapat diterjemahkan sebagai Lautan Lautannya Madunya Keutamaannya Rahmat. Dalam bahasa Jawa: Segoro Segarane  Madune  Keutamaanne Rahmat. Terkandung harapan agar setiap orang yang memasuki pondok tidak saja akan mendapatkan rahmat Allah tetapi keutamaanya rahmat bahkan lebih dari itu akan mendapatkan intisarinya ( madunya ) keutamaannya rahmat.

Pertanyaan :
Di daerah kami pondok ini terkenal dengan nama pondok lawang sewu. Berapa jumlah pintunya?
Jawab :

Pondok ini mempunyai beberapa pintu masuk dan banyak pintu disetiap lantai. Apakah seribu? Tidak. Jadi istilah lawang sewu bukan dari pondok. Sangat mungkin istilah “sewu” hanya menunjukkan banyak seperti pada pengertian “ nuwun sewu”

Pertanyaan :

Pondok ini sudah terkenal sebagai tempat wisata religi. Mengapa tidak dipromosikan agar dapat segera tersebar keseluruh masyarakat?

Jawab :

Tidak pernah terbesit didalam hati kami untuk membuat dan menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata maupun tempat pariwisata. Pembangunan pondok hanya ditujukan untuk membersihkan penyakit hati dan nggawe bungahe tiyang ndonyo akhirat.
Kami tidak melakukan promosi karena promosi terkandung maksud mengundang. Kalau mengundang konsekuensinya adalah harus bisa menyediakan seluruh kebutuhan / tuntutan yang diundang. Kami belum mampu untuk itu meskipun kami tetap berusaha semaksimal mungkin untuk melayani tamu sebaik baiknya sesuai dengan prinsip pondok bahwa tamu harus dimuliakan. Konotasi “tempat wisata” mengarah kepada urusan intertainmen dan ada unsur ekonominya; sedangkan pondok ini bersifat sosial murni – tidak untuk mencari keuntungan materi.

Pertanyaan :
Sependengaran kami diluar banyak beredar issus dan rumors yang menurut kami rasanya tidak mungkin. Apalagi lagi setelah kami datang dan menyaksikan dengan mata kepala kami yakin issu dan rumor diluar tidak benar. Mengapa pondok tidak membuat bantahan atau penjelasan hal ini supaya tidak berlarut larut dan menyesatkan?
Jawab :

Dalam menghadapiberbagai issues, rumors dan bahkan fitnah Romo Kyai Ahmad tidak pernah marah ataupun menanggapi secara langsung. Beliau malah menyuruh para santri dan jamaah untuk mendoakan mereka yang tidak senang dan memfitnah sampai tuntas dan terbuka hatinya. Mendoakan orang yang lain yang telah membuat kita senang itu wajar dan biasa. Mendoakan orang lain yang telah mendholimi kita  itu sulit. Namun hal semacam itu merupakan salah bentuk dari akhlaqul karimah.
Landasan yang beliau pakai dalam menghadapi berbagai fitnah adalah: Siapapun yang bersih bersih selalu menghasilkan kotoran atau limbah yang harus dibuang pada tempatnya. Demikian juga bagi mereka yang ingin bersih bersih hati. Kotoran hatinya juga harus dibuang. Allah menempatkan kotoran hati, sesuai dengan keadilannya,  justru kepada orang orang yang tidak senang. Sehingga semakin lama rasa tidak senangnya semakin bertambah. Kalau  Si A yang tidak senang kepada Si B maka kejelekan si B akan masuk kepada si A; sebaliknya kebaikan si A akantersalur  kepada si B. Itu bertentangan dengan maksud dan tujuan didirikannya pondok.
Disamping itu Romo Kyai tidak pernah melihat perilaku seseorang tetapi yang beliau lihat adalah siapa yang menggerakkan. Itulah sebabnya beliau selalu memperingatkan santri dan jamaah: “Pun ningali obahe tiyang. Sampeyan tingali sing ngobahaken”. “ Jangan melihat perilaku orang tetapi lihatlah siapa yang menggerakkan!” Beliau tidak melihat issue adan rumor atau fitnah; yang beliau lihat adalah: Mengapa masih ada issu dan fitnah. Beliau mencari apa yang kurang didalam pondok. Beliau juga selalu mencari jalan keluar setiap kali muncul fitnah maupun berita negatif terhadap pondok. Jalan keluar biasanya berupa kegiatan yang bersifat pembangunan , penambahan fisik bangunan maupun yang bersifat non fisik. Yang bersifat fisik bangunan dapat berupa  tambahan bangunan, pengecatan, pemasangan ornamen, pengadaan barang tertentu atau finishing bangunan yang telah ada. Kegiatan yang bersifat non fisik dapat berbentuk macam macam mushafiran, tasyakuran sederhana, masak masak bersama, dibaan atau amalan yang lain.
Alhamdulillah, pengunjung setelah datang ke pondok dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri serta merasakan sendiri suasana hati di pondok menyadari bahwa issue dan rumors yang mereka dengar ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Bahkan kebanyakan pengunjung malah menikmati kunjungannya kemudian mengajak keluarga dan temannya ke pondok sehingga semakin banyak yang pengunjung datang dan datang lagi ke pondok. Bahkan bagi beberapa pengunjung datang ke pondok sudah merupakan kebutuhan.

Pertanyaan :
Pondok ini mempunyai cabang dimana saja?
Jawab :

Pondok ini tidak mempunyai cabang. Ini merupakan satu satunya pondok yang dibangun oleh Romo Kyai dan tidak akan ada yang lain. Demikian juga Romo Kyai tidak pernah menunjuk atau mengangkat wakil atau orang kepercayaannya baik didalam maupun diluar pondok. Hal ini disampaikan agar dimaklumi kalau ada orang yang mengatasnamakan beliau untuk meminta sesuatu dalam bentuk apapun agar tidak dilayani.

 
 
II. Pertanyaan yang berhubungan dengan pengasuh pondok
 
Pertanyaan :
Siapa nama pengasuh pondok ini ? Berapa umurnya?
Jawab :

Beliau nama lengkapnya: KH. Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat Alam yang para santri dan jamaah biasa menyebut dengan “Romo Kyai Ahmad”. Beliau berumaur 66 tahun ketika  beliau kembali ke Rahmatullah pada hari Sabtu tanggal 26 Juni 2010.

Pertanyaan :
Dia  berasal darimana?
Jawab :

Beliau lahir di lokasi pondok ini yang awalnya merupakan rumah keluarga beliau. Jadi beliau asli dari desa Sananrejo Turen.

Pertanyaan :
Berapa putra Romo Kyai?
Jawab :

Keluarga Romo Kyai terdiri dari: Ibu Nyai : Hj. Luluk Rifqah binti H. Romli 
Putra pertama: Alm. Gus H.Maulana Haqqi Habibi Ahmada yang telah dipanggil kehadapan Allah di Medinah setelah selesai menunaikan ibadah haji tahun 2000.
Putri pertama: Hj Maula Ulfi Zulfa; Putri kedua: : Hj Maula Dewi Makmala;  Putri ketiga: Hj Maula Lulik Rosida ketiganya sudah berkeluarga dan tinggal di pondok. Putri keempat: Hj Maula Matlais Sohihah masih sekolah di salah satu pondok pesantren di Jombang. Pada saat ini Romo Kyai Ahmad mempunyai 7 orang cucu.

Pertanyaan :

Pengasuh pondok yang sekarang apakah juga pendiri pondok ini?

Jawab :

Romo Kyai Ahmad adalah perintis, pendiri, pengasuh, pemilik dan pembina bahkan arsitek dari pondok ini.

Pertanyaan :
Bapak Kyainya belajar agama dari siapa saja dan pernah mondok dimana?
Jawab :

Pendidikan formal Romo Kyai Ahmad adalah Pendidikan Guru Agama di Turen. Belajar agama dari orang tua beliau sendiri yang alumni dari Pondok di Tebuireng Jombang dan merupakan murid dari pendiri Nahdlatul Ulama - KH Hasyim Ashari. Pernah mondok di desa Karas Pujon selama kurang lebih 3 bulan dan di Pondok Pesantren Bahrul ’Ulūm  Sidorangu, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur dibawah asuhan Romo Kyai Sahlan selama 1,5 tahun. Selebihnya  Beliau belajar secar autodidak.

Pertanyaan :
Apa bisnis Pak Kyai kok bisa membangun pondok begini besar dan megah yang tentunya memerlukan dana yang sangat besar?
Jawab :

Romo Kyai tidak mempunyai bisnis apapun. Beliau setiap hari tidak henti hentinya mencarikan jalan keluar untuk menghilangkan berbagai penyakit yang jumlah dan jenisnya sangat banyak dan selalu muncul silih berganti - tidak pernah berhenti. Kehidupan beliau seluruhnya diabdikan untuk membuat bahagianya orang lain dunia dan akhirat dengan mencarikan jalan keluar untuk menghilangkan berbagai penyakit hati. Apa yang beliau butuhkan selalu tersedia yang datangnya sangat sering tidak dapat diduga. Bukan berarti datang segara ghaib. Begitu Allah mencukupi dan mernahno ummatnya yang hanya berpikir untuk orang lain - untuk urusan akhirat. Itu keyakinan yang ada di pondok.

Pertanyaan :
Apa kegiatan pengasuh pondok. Apakah beliau memberikan fatwa setiap hari atau ceramah dimana mana? Mengajar para santri?
Jawab :

Kegiatan beliau setiap saat adalah mencarikan jalan keluar utuk menghilangkan penyakit hati semua orang. Jalan keluar beliau peroleh dari istikharah. Dengan olah rasa hati – ilmu sirri. Kalau petunjuknya harus membangun beliau biayai sendiri. Kalau petunjuknya harus musafiran beliau lakukan sendiri. Kadang harus diikuti oleh sejumlah tertentu santri dan jamaah dan sejumlah mobil tertentu. Setiap petunjuk yang dapat menghilangkan penyakit hati dan dapat menambah cinta kepada Allah pasti beliau kerjakan meskipun beliau sedang sakit. Beliau tidak pernah beripikir tentang sarana dan prasarana yang diperlukan. Seluruhnya beliau sandarkan kepada Allah.
Sejak tahun 1992 beliau sudah berniat untuk dahwah melalui bangunan pondok secara sirri. Jadi gedung / bangunan pondok merupakan sarana dakwah beliau. Sejak merintis tahun 1963 beliau berdakwah dan menerima tamu seperti pada umumnya pengasuh pondok. Namun karena berbagai kendala ternyata tidak efektif dan hasilnya tidak maksimum.
Beliau juga tidak mengajar didepan santri. Beliau memberikan alih pengetahuan lewat sirri dan langsung kedalam hati yang hasilnya langsung bisa dipahami oleh santri. Beliau berbicara sangat sedikit. Dalam memberikan petunjuk biasanya sangat singkat dan tidak banyak berbicara.
Disamping itu beliau tidak pernah memberikan seramah umum dimanapun.

Pertanyaan :
Bagaimana caranya kalau ingin bertemu dengan kyai. Katanya sulit dan bahkan tidak bisa ditemui.
Jawab :

Sampai tahun 1992 seluruh kegiatan pondok diasuh dan dipimpin oleh Romo Kyai Ahmad sendiri. Seluruh kegiatan sehari hari langsung beliau pimpin sendiri. Demikian juga seluruh tamu yang datang beliau temui. Biasanya beliau menemui tamu mulai pagi setelah subuh sampai jam satu atau jam dua malam. Beliau istirahat hanya kalau sholat. Makan kalau beliau ingat dan sempat. . Sakitpun beliau paksakan karena beliau mempunyai prinsip : tamu wajib dimuliakan.
Dengan berjalannya waktu - menemui tamu model seperti tersebut diatas beliau rasakan tidak efektif dan banyak mengalami kendala sehingga beliau mengambil keputusan untuk tidak menemui siapapun dan berniat untuk memakai bangunan pondok beserta isinya sebagai sarana untuk membersihkan hati dan sarana dahwah. Dahwah yang dimaksud disini adalah dakwah secara otomatis dan secara sirri yang langsung dimasukkan kedalam hati ( qolbu ) sehingga hati terbersihkan dari penyakit hati. Proses pembersihan hati berjalan secara otomatis tanpa disadari oleh para santri / jamaah maupun tamu tetapi hasilnya juga secara otomatis dapat dirasakan secara langsung.
Beberapa hal menyebabkan beliau tidak lagi menemui dan berdakwah melalui bangunan pondok adalah:

  • Dengan bertambahnya jumlah tamu yang datang beliau tidak mampu lagi mencari cara untuk memuaskan semua tamu. Rombongan tamu datang dengan masalah tertentu. Baru bicara sebentar datang rombongan yang lain. Diteruskan yang baru tidak mengerti masalah. Tidak diteruskan yang pertama tidak puas. Demikian seterusnya sehingga tidak efektif. Padahal yang lebih bermanfaat justru berjalan berkeliling pondok; tidak hanya menunggu giliran atau mendengarkan yang bukan urusannya.  Itu penyebab yang pertama.
  • Penyebab yang kedua adalah: apa yang difatwakan oleh beliau tidak selalu bisa dipahami oleh tamu. Sebagian yang mengerti sulit untuk melaksanakan. Sehingga hasilnya hanyalah pengetahuan saja.
  • Penyebab ketiga adalah adanya kendala bahasa. Beliau selalu memakai bahasa jawa kromo sehingga tidak semua tamu bisa mengerti dan menangkap maksud beliau.
  • Keempat adalah adanya kendala aliran. Beliau menggunakan fatwa menurut aliran A tidak diterima oleh tamu yang alirannya B dan sebaliknya.
  • Kelima adanya kendala agama. Yang datang ke pondok tidak hanya orang islam. Non muslim kurang bisa menerima penjelasan berdasarkan Qur’an dan Hadis.
  • Keenam dan merupakan kendala yang sangat penting untuk disikapi adalah: beliau sangat tidak ingin untuk berbuat tidak adil. Satu ditemui yang lain tidak. Pejabat ditemui rakyat biasa tidak. Kyai ditemui pejabat tidak. Pejabat ditemui kyai tidak dan seterusnya. Lebih adil semua secara konsisten tidak ditemui. Perlakuan demikian juga berlaku untuk santri, panitia maupun seluruh jamaah. Untuk salim kepada beliau hanya setelah sholat Idul Fitri. Pada saat itu siapapun boleh ikut salim.
  • Penyebab yang lain. Beliau mencari jalan keluar untuk semua masalah yang dihadapi oleh santri, jamaah maupun yang secara umum. Mencari penyelesaian masalah sangat sering memerlukan waktu dan konsentrasi. Beliau yang mengarsiteki seluruh bangunan. Itu tidak mudah dan banyak menyita waktu. Beliau yang mengarahkan seluruh pelaksanaan pekerjaan bangunan.. Tidak jarang untuk mengatasi masalah beliau harus bepergian musafiran yang jaraknya bisa 4 – 5 musfiran. Itu sekitar 380 s/d 450 km. Berarti 900 km pulang balik. Beliau juga sangat sering tidak bisa makan 2 - 3 hari karena belum menemukan penyelesaian masalah.  Bisa dibayangkan bagaimana  sibuknya beliau dan tenaga yang harus beliau curahkan untuk itu.
  • Disamping hal hal tersebut diatas kesehatan beliau sering terganggu terutama kakinya sehingga sulit berjalan. Beliau sering sakit karena beliau yang menanggung semua kesalahan yang terjadi dalam mengerjakan pembangunan maupun dalam hal lain yang dikerjakan oleh santri dan jamaah. Setiap kesalahan yang terjadi akibat tidak tepatnya pelaksanaan pekerjaan maupun kegiatan di pondok beliau yang merasakan tidak enaknya. Dengan semakin besarnya pondok, semakin banyaknya pekerjaan dan semakin banyaknya jamaah maupun santri yang baru semakin banyak pula kesalahan yang terjadi yang berdampak terhadap kesehatan beliau. Pada akhir akhir ini hampir hampir setiap hari beliau tidak pernah tidak sakit bahkan tidak makan hampir 2 bulan hanya minum beberapa teguk air saja. Meskipun demikian, dalam keadaan sakit, beliau harus digendong, mual dan muntah serta kesakitan beliau tetap menjalankan hasil petunjuk yang beliau terima. Tidak tidak pernah memperhatikan dirinya sendiri selama yang dikerjakan dapat membersihkan penyakit hati dan dapat menambah cinta kepada Allah pasti beliau kerjakan tanpa ditawar bagaimanapun keadaan beliau.
  • Penyebab yang lain lagi.  Dengan dahwah lewat bangunan hasilnya jauh lebih efisien cakupannya bisa lebih banyak dan caranya lebih cepat dan lebih mudah. Setiap tamu dapat secara prasmanan mengambil apa yang dibutuhkan tanpa harus bertemu secara fisik dengan Romo Kyai. Dahwah secara lesan hanya cocok bagi yang sealiran saja. Dari yang sealiranpun tidak semua dapat mengerti. Dari sebagian yang mengerti belum tentu semuanya mau melaksanakan. Dari yang ingin melaksanakan belum tentu mampu mengerjakan. Kemampuan seseorang untuk memberikan dahwah sangat terbatas. Kalau seseorang dapat menyampaikan dakwah kepada 1 juta orang itu sudah luar baiasa. Kalaupun dapat mencapai sejumlah itu berapa lama dan berapa banyak tenaga yang diperlukan untuk mengerjakannya. Padahal yang diinginkan oleh Romo Kyai adalah agar dahwah yang beliau kerjakan dapat mencakup seluruh dunia. Dengan dahwah melalui bangunan siapapun ( aliran apapun dan agama apapun serta bangsa apapun ) dapat menerima dan memanfaatkan. Sifatnya lebih universal. Apalagi sifat dahwah melalui bangunan di pondok adalah untuk membersihkan hati dari berbagai macam penyakit hati yang jumlahnya sangat, sangat sangat banyak.
  • Perlakuan seperti tersebut diatas berlaku bagi siapapun tamu yang datang; begitu juga bagi santri dan jamaah maupun panitia pondok. Santri dan jamaah serta siapapun yang berminat dapat salim kepada Romo Kyai dan keluarga setelah sholat Idul Fitri atau pada saat berangkat haji.
  • Dengan uraian yang agak panjang ini diharapkan semua bisa memahami dan mengerti bahwa Romo Kyai bukan tidak bisa ditemui, bukan tidak mau menemui, bukan tidak menghormati tamu, bukan sombong tetapi beliau lebih memilih agar adil bagi semua dan lebih bermanfaat.

Untuk bertemu beliau tetapi tanpa salim dapat dilakukan dengan cara:

  • Ketemu beliau kalau sedang keliling pondok dengan bermobil ( karena beliau sudah sangat sulit untuk berjalan ). Beliau mengelilingi  pondok hampir setiap jam mulai subuh sampai larut malam.
  • Mengikuti istighosah pada setiap hari minggu sesudah sholat subuh yang dipimpin oleh beliau sendiri.
  • Sungkeman sewaktu akan naik haji dan Hari Raya Idul Fitri.
Pertanyaan :
Bagaimana caranya kalau ingin berkonsultasi untuk urusan pribadi?
Jawab :

Konsultasi pribadi dapat dilakukan di tempat piket santri di Ruang informasi II yang berada di dekat kolam perahu; temapt mengambil kartu masuk dan kartu keluar.
Tamu dipersilahkan menulis dibuku keluhan tamu yang sudah disediakan. Didalam menulis tidak peru dijabarkan secara rinci permasalahannya. Lebih baik pokok pokoknya saja. Sangat dihargai kalau tamu menulis alamat lengkap – seperti alamat berkirim surat dan nomer telephon yang bisa dihubungi.
Keluhan akan disampaikan kepada Romo Kyai, sewaktu beliau masih ada melalui Ibu Nyai. Setelah Romo Kyai pulang ke Rahmatullah disampaikan langsung kepada Ibu Nyai. Jawabannya akan disampaikan melalui santri. Isi jawaban kebanyakan menyangkut dampak penyakit hati misalnya:
Tidak ridho, tidak senang, mengecam dan melaknat orang lain dalam berbagai bentuk dan wujudnya. Dimaksud dengan orang lain dapat meliputi diantaranya: keluarga, sanak saudara, orang tua, tetangga, guru, ulama, pejabat teman, golongan orang  dsbnya.

Pertanyaan :
Pak Kyai tinggal dimana?
Jawab :

Beliau dan keluarga bertempat tinggal di lantai IV bagian teras depan dari pondok ini.

Pertanyaan :
Katanya Romo Kyai Ahmad hanya mempunyai 4 orang putri karena putranya sudah meninggal di Medinah. Bagaimana Romo Kyai menyiapkan kader penerusnya.
Jawab :

Romo Kyai tidak mencemaskan siapa yang akan menjadi penerusnya. Beliau menyandarkan dan menyerahkan urusan pondok kepada Allah. Beliau sangat yakin Allah mengetahui yang terbaik untuk ummatnya termasuk keberadaan pondok ini. Disamping itu beliau juga tidak pernah berpikir mendahului kehendak Allah. Biar berjalan secara alami saja.
Namun demikian Ibu Nyai beserta seluruh putrinya secara otomatis telah belajar dari beliau karena sehari hari selalu mengikuti dan selalu diberikan penjelasan tentang masalah yang setiap kali dihadapi. Demikian juga santri dan panitia telah diberikan banyak petunjuk oleh beliau. Disamping itu diberbagai lokasi sudah dipersiapkan contoh bangunan sehingga tinggal meneruskan saja.
Pada saat ini seluruh kegiatan beliau diteruskan oleh Ibu Nyai dan keempat putrinya.

 
III. Pertanyaan yang berhubungan dengan santri
 
Pertanyaan :

Berapa jumlah santri yang ada pada saat ini?

Jawab :

Jumlah santri pada saat ini masih sangat sedikit baru sekitar  200 orang. Santri yang ada terdiri dari santri yang belum baliq yaitu anak dan cucu dari santri yang sudah berkeluarga, santri dewasa bujang putra dan putri dan santri yang sudah berkeluarga. Pondok belum dibuka untuk umum karena belum ada pendidikan formalnya. Yang menjadi santri biasanya adalah mereka yang menginginkan untuk menyelesaikan masalah pribadi.

Pertanyaan :

Santri yang ada berasal dari mana?

Jawab :

Santri berasal dari luar Jawa ( Kalimantan dan Sumatra, Lombok ) tetapi yang terutama berasal dari Jawa.

Pertanyaan :

Apakah yang boleh menjadi santri santri hanya sanak saudara pengasuh pondok saja?

Jawab :

Tidak. Santri boleh siapa saja yang memenuhi syarat.

Pertanyaan :

Saya tidak melihat guthekan seperti umumnya di pondok. Santrinya tinggal dimana?

Jawab :

Guthekan Santri bujang putra berada di lantai dasar. Santri bujang putri di lantai IV. Santri yang sudah berkeluarga menempati guthekan yang tersebar di berbagai tempat dilingkungan pondok. Guthekan dan ruang ruang kelas seperti yang terdapat di pondok pesantren pada umumnya memamng belum ada.

Pertanyaan :

Apa syaratnya untuk menjadi santri?

Jawab :

Syarat untuk menjadi adalah:

  1. umur seusia lulusan SLTA.
  2. Mendaftarkan diri dengan mengisi formulir pendaftaran yang dilampiri dengan:.
  3. Ijin tertulis dari orang tua atau wali.
  4. Surat pindah / bepergian mondok atau lainnya dari kepala desa / lurah setempat , camat kepolisian.
  5. Surat keterangan berkelakuan baik dari Kepolisian
  6. Foto hitam putih bertutup kepala ukuran 4 X 4 sebanyak 2 ( dua ) lembar.
  7. Penyerahan langsung ( ijab-qobul / serah terima ) dari orang tua / wali yang bersangkutan kepada Romo Kyai langsung atau pada pengurus
  8. Pernyataan bahwa menjadi santri bukan karena paksaan, tetapi betul betul atas kemauan sendiri.
  9. Bagi wanita harus ada muhrim yang mengantarkan dan atau yang menjemputnya.
  10. Bersedia menjalani masa percobaan dalam waktu tertentu dalam bentuk riadhoh di pondok sampai mendapat ijin dari Romo Kyai.
  11. Bersedia mematuhi semua peraturan dan tata tertib pondok termasuk ikut bekerja membangun pondok agar dapat dipakai untuk dijadikan alat membersihkan berbagai penyakit hati.
Pertanyaan :

Berapa biaya  untuk menjadi santri? apakah untuk makan dan minum santri diberi dari pondok?

Jawab :

Untuk menjadi santri pada prinsipnya tidak gratis; namun untuk sementara belum ada tarip atau ketentuan khusus; hanya berdasarkan pengertian, kerelaan dan kemampuan. Mereka  menyerahkan ke pondok dalam bentuk apapun sesuai dengan kemampuannya. Kenyataan yang ada pada saat ini belum ada santri yang membayar meskipun kebutuhan makan mereka beserta keluarganya disediakan oleh pondok.  Bahkan santri yang sudah berkeluarga diberi kesempatan untuk mendapatkan tambahan penghasilan dalam bentuk kios dan Warung papin. Santri bujang diberikan barang barang untuk keperluan kebersihan diri. Seluruh kebutuhan makan dan minum ( termasuk bagi anak dan isteri santri berkeluarga ) disediakan oleh pondok sesuai dengan kemampuan. Belum ada uang pendaftaran, uang pangkal atau biaya lain yang mengikat yang berkenaan dengan keberadaan santri di pondok.

Pertanyaan :

Bagimana proses pembelajaran di pondok ini?

Jawab :
  1. Di pondok santri tidak sekedar belajar agama. Lebih menekankan kepada belajar hidup beragama - belajar hidup sesuai dengan tuntunan / aturan agama.
  2. Latar belakang santri dilihat dari pendidikan formal maupun keagamaan, lingkungan asal, dan keadaan sosial ekonomi sangat beragam. Sebagian sarjana sebagian yang lulusan sekolah dasar. Ada yang lulusan berbagai pondok ternama ada yang sama sekali tidak mengenal agama; sebagian yang lain lulusan tirai besi; yang lain lagi bekas preman bahkan pemakai narkoba dan pemabuk. Oleh karena itu pembelajaran untuk sementara tidak mungkin dilakukan secara classical. Pendekatan yang dilakukan bersifat individual disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing masing santri. Metodologi pembelajaran lebih bersifat belajar sambil mengerjakan ( learning by doing ), belajar dari kesalahan ( trial and error ), saling asah saling asuh – gesekan dan alih ketrampilan.
  3. Semua santri dewasa diwajibkan untuk mengikuti ketrampilan kerja dan pelaksanaan kerjanya harus sesuai dengan petunjuk - tidak diperkenankan semaunya sendiri maupun mengandalkan kemampuan diri sendiri; harus selalu bersandar kepada Allah. Dalam mendapatkan ketrampilan tertentu santri menjalankan tugas magang kepada santri yang lain. Kebanyakan santri dapat menguasai beberapa jenis pekerjaan namun biasanya ada kemampuan khusus yang dia kuasai.
  4. Santri anak anak ( anak dari santri ) diwajibkan belajar di dinniyah dengan kurikulum sesuai dengan Depag.
  5. Metodologi yang paling penting dan yang paling dominan adalah yang diberikan langsung oleh Romo Kyai sendiri secara sirri dan langsung kedalam qolbu kepada setiap individu santri. Pada prinsipnya pengertian, ketrampilan dan sikap diberikan oleh Romo Kyai secara langsung secara sirri dan langsung kedalam hati.  Sangat jauh berbeda dengan system pembelajaran pada umumnya. Pengertian yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan setiap pribadi; meskipun sangat sering kalau diperlukan  diberikan secara kelompok dan massal. Beliau tidak memberikan pelajaran agama dengan dahwah dan atau mempelajari buku tertentu; itu diserahkan sepenuhnya kepada santri sendiri untuk memperolehnya.

Pemahaman yang selanjutnya dapat merubah sikap dan kemudian akhlak hanya mungkin kalau hati tersentuh; tidak cukup hanya pikiran dan akal. Pemahaman diberikan secara langsung kedalam qolbu tanpa disadari oleh yang diberi pemahaman; namun tanpa disadari pula santri langsung mengerti dan semakin lama semakin berubah sikap dan perilakunya. Pencerahan hati dapat diberikan secara pribadi, kelompok maupun secara massal. Jadi alih pengetahuan sekaligus ketrampilan dan sikap tidak melalui pikiran dan akal tetapi langsung kedalam hati.

Pertanyaan :

Santri mengkaji buku apa saja?

Jawab :

Secara umum di pondok berpedoman pada Qur'an, Hadis, Ijmak dan Qiyas. Buku kajian yang sering dipakai di pondok diantaranya: Hikam, Minahus Saniyah,  Nashaa-ihul ‘Ibad,  Jawaahirul Bukhari,   Tafsir Jalalain dan lain-lain. Dalam prakteknya tentu saja disesuaikan dengan tingkat kemampuan masing masing santri.

Pertanyaan :

Apa kegiatan santri sehari hari dalam menerapkan belajar hidup beragama?

Jawab :

Kegiatan santri di pondok dapat berupa kegiatan yang bersifat umum, keagamaan, pembangunan pondok, tugas kelompok dan tugas khusus yang bersifat pribadi. Secara umum  seluruh kegiatan yang dijalankan oleh santri di pondok ditujukan untuk membersihkan hatinya sendiri dan hasil kerjanya menjadi sarana untuk membersihkan hatinya ummat. Dengan demikian santri mendapatkan manfaat ganda.

  1. Kegiatan yang bersifat umum berupa menjalankan kehidupan sehari hari untuk memenuhi kebutuhan pribadinya dan melaksanakan kegiatan yang terkait dengan statusnya sebagai warga pondok dalam bentuk:
    1. Piket
    2. Melayani tamu pondok
    3. Memelihara kebersihan pondok
    4. Perkebunan
    5. Pertamanan dsbnya
    6. Kegiatan keagamaan berupa:
    7. Kewajiban mendirikan sholat lima waktu secara berjamaah. Pelanggaran atas kewajiban tersebut dikenakan sanksi yang disesuaikan dengan masing masing pribadi santri. Bagi santri yang diberikan tempat usaha sanksinya berupa : tempat usahanya harus ditutup biasanya selama satu sampai tiga hari; pada keadaan tertentu bisa lebih dari itu. Sholat berjamaah mempunyai fungsi membersihkan hati dan mempunyai fadhillah yang sangat besar. Tidak mengikuti sholat berjamaah berpengaruh terhadap pribadi santri maupun barang yang dijual ditempat usahanya. Santri dan barang pribadinya tidak bisa menyalurkan barokah; bahkan dapat methengi( Jawa ) hatinya orang yang bertemu dan atau yang memanfaatkan barangnya. Sedangkan fungsi utama dari tempat usaha yang diberikan oleh santri adalah menyebarkan barokah – tidak sekedar mencarai tambahan pendapatan bagi santri. Jadi kalau ada issue yang mengatakan di pondok tidak sholat tidak apa apa adalah tidak betul. Jangankan tidak sholat – bahkan tidak solat berjamaahpun ada sangsinya.

Pengalaman selama ini: santri yang kurang mengikuti sholat jamaah tampak kurang cerdas dibanding dengan mereka yang rajin mengikuti sholah berjamaah.
Romo Kyai sendiri tidak pernah menegur santri yang tidak sholat. Beliau melihat santri tidak sholat sebagai orang yang hatinya sedang sakit. Harus dicari penyebab dan jalan keluarnya agar santri dapat menjalankan ibadah sholat dengan kesadarannya sendiri dan menjadikan sholat sebagai kebutuhan. Beliau mengibaratkan orang yang diberi makanan yang enak tetapi tidak dimakan karena rasanya pahit – pasti orangnya sakit. Demikian juga muslim yang tidak mau sholat. Disamping itu beliau meyakini ibadah tidak bisa dipaksa. Tidak menghasilkan apa apa. Malah mencelakakan dirinya sendiri. Lain halnya dengan belajar yang bisa dipaksa karena karena masih ada hasilnya – ilmu.

    1. Mempelajari kitab dan buku tuntunan yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan masing masing.
    2. Mengikuti kegiatan keagamaan lain: sholat malam, istighosah, dibaan, shalawatan, tahlilan maupun kegiatan lain yang dikerjakan secara sendiri sendiri sesuai dengan kebutuhannya masing msing.
    3. Berperan aktif  dalam kegiatan memperingati hari hari besar islam dengan tujuan agar seluruh jamaah dan tamu yang dating dapat merasa senang dan bahagia selama dan sesudah mengikuti acara.
    4. Mengingat system pembelajaran di pondok untuk sementara belum diadakan tingkatan kelas, sedangkan latar belakang pendidikan agama para santri sangat variatif dengan tingkatan yang sangat jauh berbeda maka para santri di perkenankan mengaji kemana saja, dengan syarat sebagai berikut:
      1. Kitab yang dikaji / dipelajari kitab yang sudah disepakati para Alim Ulama' Ahlus Sunnah wal Jama'ah..
      2. Mengaji Bil-Ilmi tidak Bin Nafsi ( tidak memecah belah antara muslim sesama muslim / su'udzon Ulama yang lain ).
      3. Berhaluan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
      4. Jika ada gejala-gejala su'udzon yang ditimbulkan dari pelajaran ustadz tersebut, diharapkan dapat  mencari ustadz lain yang dapat betul-betul memberikan syarat-syarat untuk suksesnya ibadah kita terutama membersihkan hati.
  • Mengikuti kegiatan pembangunan pondok sebagai bentuk pengabdian
  • Kegiatan dalam bentuk pembangunan pondok yang dijalankan oleh santri dapat bersifat kewajiban dan bersifat kebajikan. Tugas yang bersifat kewajiban untuk mengatasi masalah pribadinya. Sifatnya harus dikerjakan sesuai dengan petunjuk. Tugas yang bersifat kebajikan dikerjakan atas dasar kemauan dan kesadaran sendiri. Nilainya lebih besar dari pada tugas kewajiban
  • Semua santri mengikuti kegiatan pembangunan pondok yang dilaksanakan dalam bentuk berbagai macam kegiatan. Membangun gedung dan fasilitas pondok, urusan dapur, urusan melayani tamu, perkebunan dan pertanian, perdagangan dan industri, perikanan, perbengkelan, dan elektronika, bidang jasa, mengajar dllnya. Dalam pembangunan gedung terdapat berbagai variasai pekerjaan diantaranya:  pekerjaan pemasangan fondasi, pemasangan tembok, pengecoran, instalasi listriik, air, tilpun, pengecatan, pencetakan dan pemasangan ornamen, kaligrafi dan lain lain.
  • Pada hakekatnya seluruh pekerjaan yang dikerjakan oleh santri baik yang bersifat kewajiban maupun kebajikan adalah untuk keperluan dirinya sendiri; bukan untuk pondok. Manfaat yang diperoleh adalah ketrampilan kerja; melatih kepekaan rasa, hatinya terbersihkan, hasil kerjanya dapat membersihkan hatinya ummat – amalan yang tidak ternilai harganya sulit untuk dihitung dengan kekayaan. Belum lagi pengaruh positif yang terjadi di keluarganya baik yang di dalam pondok maupun yang diluar pondok. Menjadi penyalur barokah pondok dari barokah dari Romo Kyai. Belum lagi dengan terbersihkannya hatinya sedikit demi sedikit semakin muncul rasa cinta dan kedekatan kepada Allah yang selnjutnya memunculkan rasa kasih sayang terhadap semua makhluk. Rasa cinta dan kasih sayang itu yang membuat hatinya semakin lama semakin dapat merasakan keikhlasan dalam setiap pekerjaan dan atau kegiatan yang dia kerjakan. Sedangkan rasa cinta dan kasih sayang mendorong munculnya akhlaqul karimah; prasyarat terjadinya perdamaian, ketenangan jiwa dan kebahagiaan yang selanjutnya terpancar kesekitarnya / sekelilingnya. Dijauhkan dari berbagai bentuk penyakit hati berupa riya’, ujub, iri, dengki, suudzon, rakus dunia dsbnya. Semakin lama semakin timbul rasa untuk berpikir dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain seprti yang dicontohkan oleh Romo Kyai. Keinginan beliau hanyalah membuat senangnya, bahagianya orang lain – gawe bungahe wong liyan – dan itulah hakekat pengabdian yang merupakan tugas manusia hidup di dunia.
  • Tugas kegiatan dapat dijalankan secara pribadi, secara kelompok maupun keroyokan – bersama sama dengan siapapun yang ikut serta.
  • Tugas pribadi biasanya atas dasar petunjuk bagi perorangan dalam rangka untuk mengatasi masalah rohani – penyakit hati yang sedang dideritanya.
  • Tugas kelompok dikerjakan oleh pribadi  pribadi – beberapa orang yang sudah ditunjuk / ditetapkan oleh Romo Kyai yang pada hakekatnya juga untuk kepentingan kelompok itu sendiri.
  • Tugas bersama / keroyokan dikerjakan oleh siapa saja untuk mengatasi maslah rohani / penyakit hati yang bersifat massal.
Pertanyaan :
Katanya santri yang sudah berada di pondok tidak diperbolehkan pulang maupun keluar dari pondok. Apa itu benar?
Jawab :

Sama sekali tidak benar. Romo Kyai Ahmad tidak pernah menahan santrinya untuk tetap di pondok. Beliau tidak pernah mengikat santri. Santri boleh keluar dari pondok kapan saja. Beliau juga tidak pernah mencari tambahan santri. Semua santri datang ke pondok atas kemauan sendiri. Bahkan harus riadhoh di pondok dahulu sebagai masa percobaan sebelum diterimma menjadi santri. Setelah hatinya mantap baru diijinkan menjadi santri.

Pertanyaan :

Katanya santri harus menikah sesama santri tidak diijinkan menikah dengan orang diluar pondok.

Jawab :

Tidak benar. Santri boleh menikah dengan siapa saja dan darimana saja. Memang sebelum menikah Romo Kyai Ahmad selalu memberi gambaran apakah calon pasangan kemanten itu baik apa tidak. Pengertian baik adalah baik secara rohani; persisnya apakah pasangan tersebut akan bertambah dekat dan bertambah cinta kepada Allah atau tidak. Terserah santri mau mengikuti saran Beliau atau tidak. Hanya kalau tidak mengikuti saran beliau maka pasangan tersebut tidak diijinkan untuk mengikuti pernikahan bersama di pondok.

 
IV. Pertanyaan yang berhubungan dengan jamaah
 
Pertanyaan :

Siapa yang boleh menjadi jamaah?

Jawab :

Siapapun yang beragama islam boleh menjadi jamaah pondok. Tidak membedakan aliran atau golongan maupun dari organisasi apapun.

Pertanyaan :

Darimana saja asal jamaah?

Jawab :

Sementara ini Jamaah berasal dari Bangka , Kalimantan, Jawa dan Bali serta Lombok. Jamaah dari daerah yang sama biasanya membentuk kelompok dan menunjuk seorang koordinator.  Seorang koordinator hanya mengkoordinasikan kegiatan tidak mewkili pondok ataupun Romo Kyai.

Pertanyaan :

Berapa jumlah seluruh jamaah?

Jawab :

Jumlah yang tepat tidak diketahui secara pasti. Sangat sering jamaah lama tidak datang ke pondok sehingga sulit diikuti. Jumlah jamaah sering berfluktuasi karena tidak ada ikatan apapun.

Pertanyaan :

Apa syarat menjadi jamaah?

Jawab :

Syaratnya: hanya beragama islam dan mencatatkan diri. Tidak ada uang pangkal, iuran, potongan wajib dsbnya. Apalagi dibaiat. Setiap saat jamaah boleh datang dan pergi semaunya. Pondok tidak pernah mengikat jamaah. Pondok  juga tidak pernah secara aktif  mencari jamaah. Jamaah yang ada tidak diijinkan untuk mencari atau mempengaruhi dan mengajak orang lain untuk menjadi jamaah pondok; namun kalau ada yang ingin menjadi jamaah harus memfasilitasi.

Pertanyaan :

Apa kegiatan jamaah selama di pondok?

Jawab :

Aktivitas dan kegiatan jamaah di pondok sangat sangat tergantung dari keterikatannya kepada pondok dan frekuensi kedatangannya ke pondok. Atas dasar keterikatan pondok jamaah digolongkan dalam:

  • merasa senang kalau datang ke pondok
  • merasa senang dengan pondok
  • merasa senang berada di pondok
  • merasa cocok dengan kegiatan / aliran pondok
  • merasa mendapat manfaat dari pondok
  • ingin belajar hidup beragama
  • ingin membersihkan hatinya dari penyakit penyakit hati
  • ingin mendekatkan diri kepada Allah
  • ingin hatinya dapat cinta kepada Allah
  • ingin mengabdi kepada Allah dengan lebih berpikir, berorientasi dan beraktivitas untuk kepentingan akhirat
  • ingin mengeluarga dengan pondok
  • ingin mengeluarga dengan Romo Kyai dan keluarganya.
  • sebab yang lainnya.

Atas dasar frekuensi kedatangannya ke pondok digolongkan menjadi:

  • Yang datang setiap saat kapanpun dia mau dan sesuai dengan kesempatan dan kemamapuan. Dia datang bisa kapanpun. Waktu berada di pondok semaunya. Selama berada di pondok beraktivitas menurut kemauannya sendiri.
  • Yang datang secara istiqomah menurut jangka waktu tertentu; berapa kali dalam kurun waktu tertentu; setiap ada kegiatan bersama atau ada peringatan hari besar islam.
  • Jamaah istiqomah dapat karena kewajiban sesuai dengan petunjuk yang biasanya untuk menyelesaikan maslah pribadi; dan jamaah istiqomah yang bersifat kebajikan yang ditentukan dan diniatkan sendiri. Nilai kebajikan lebih tinggi dari yang kewajiban

Atas dasar aktivitas di pondok dapat digolongkan menjadi jamaah pasif dan jamaah aktif. Jamaah aktif selalu melakukan aktivitas yang sifatnya untuk kepentingan umum. Bentuknya mulai dari yang paling kecil dan sederhana sampai menjadi pengurus dan atau panitia pembangunan pondok.

Pertanyaan :

Apa kewajiban jamaah?

Jawab :

Kewajiban jamaah hanya mengikuti peraturan pondok selama berada di pondok dan menjaga nama baik pondok selama berada didalam maupun diluar pondok.

Pertanyaan :

Dibanding dengan pengunjung apa perbedaannya?

Jawab :

Perbedaan antara pengunjung dan jamaah adalah:

  • Pengunjung meminta kartu keluar / masuk dan mengisi kesan; jamaah datang mengisi buku jamaah dan dilaporkan langsung agar rohaninya langsung bisa diperbaiki dan bisa pulang  kalau sudah tidak ada masalah agar tidak terjadi sesuatu sampai di rumah.
  • Mendapat informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan di pondok.
  • Jamaah dapat secara aktif mengambil kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang pada  yang hakekatnya adalah untuk menyelesaikan masalah pribadi maupun menghilangkan resikonya sendiri disamping secara tidak langsung mendapat bagian karena berperan serta dalam menyediakan fasilitas untuk membersihkan hatinya ummat.
  • Jamaah bisa mengajukan permintaan untuk ikut dan atau mengambil kesempatan untuk menyelesaikan sebuah kegiatan pembangunan baik secara pribadi maupun kelompok yang dikenal dengan istilah “udaran”.
  • Semua yang tersebut diatas sifatnya tidak wajib; jamaah bebas menentukan pilihannya sendiri.
 
V. Pertanyaan yang menyangkut pendanaan pondok

 

Pertanyaan :
Pondok ini begitu besar. Tentu saja membutuhkan dana yang sangat besar. Dari mana dana didapat?
Jawab :

Pondok ini milik pribadi tetapi diperuntukkan bagi semua ummat dan bersifat sosial murni. Dana tentu saja utamanya berasal dari Romo Kyai sebagai pemilik pondok. Sebagian dari jamaah dan orang orang yang ingin membelanjakan/ mengorbankan / menafkahkan sebagian hartanya untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah melalui pondok dalam bentuk infaq, hadiah atau hibah yang sifatnya tidak mengikat. Amal jariyah belum dapat diterima karena pemanfaatannya harus dirundingkan dahulu dengan pemberi amal. Sedangkan di pondok semuanya didasarkan pada hasil istikharah yang tidak sifatnya mutlaq dan tidak bisa dimusyawarahkan. Tehnis pelaksanaannya tidak memungkinkan. Dana dalam bentuk infaq, hadiah atau hibah akan dipernahno oleh Romo Kyai agar semaksimal mungkin dapat bermanfaat bagi yang memberi diwujudkan dalam bentuk bangunan yang selanjutnya akan berfungsi untuk membersihkan hati sesuai dengan penyakit hati dari yang memberikan dana. Secara fisik beliau sangat jarang menerima langsung uangnya; tetapi beliau dilapori atau diberitahu darimana dan berapa dana yang diterima.

Pertanyaan :
Bagaimana sistem penggalian dana yang diterapkan disini? Kami membangun sebuah masjid yang relatif kecil susahnya bukan main.
Jawab :

Kami tidak pernah secara aktif mencari santri, jamaah maupun dana untuk keperluan pondok. Idak ada istilah donatur, penraian dan penggalangan dana. Apalagi iuran, potongan wajib dan urunan. Seluruh urusan pondok  kami sandarkan kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Ada tiga prinsip pendanaan di pondok yang secara konsisten diterapkan. Pertama, tidak minta minta; tetapi kalau diberi kami terima itupun dalam bentuk infaq, hibah atau hadiah tanpa ikatan atau persyaratan apapun. Kami merasa sudah dipernahno sak pernah pernahe. Apa yang ada disyukuri dan dinikmati. Apa yang ada dimanfaatkan sebaik baiknya.. Lebih baik memberi daripada meminta.
Semuanya datang secara sukarela dari mereka yang ingin membersihkan hatinya. Pondok tidak pernah membuat proposal kemanapun. Tidak memungut biaya apapun terhadap pengunjung pondok atas dasar prinsip tidak meminta minta. Disamping itu setiap pengunjung pondok, sesuai dengan kemampuan,  diperlakukan sebagai tamu yang wajib dimuliakan.
Kedua, tidak tomak. Tidak mengharap harap untuk diberi orang. Kami hanya mengharap kepada Allah. Tomak cenderung kepada berandai andai dan panjang angan angan.Tidak tomak dimaksudkan untuk mencegah agar tidak terjerumus kedalam sifat tamak – rakus harta. Rakus harta selanjutnya akan merangsang munculnya sifat nggrangsang donyo. Sifat nggrangsang donyo mendorong untuk berbuat apa saja termasuk menghalalkan segala cara untuk memenuhi kerakusannya. Akhirnya terjerumus kedalam kemaksiatan. Itu yang dicegah.
Ketiga, tidak hutang / pinjam. Hutang atau meminjam merupakan wujud dari sifat kesusu – tergesa – gesa.  Nafsu ingin segera ada.

Pertanyaan :
Tersebar informasi bahwa masjid ini dibangun dengan dana yang berasal dari prewangan. Sebetulnya bagaimana?
Jawab :

Itu tidak benar. Pertama, sebagai ummat islam kita memahami bahwa sebaik baik jin dan atau prewangan itu masih lebih jelek dari sejelek jelek manusia. Itulah sebabnya kami tidak berteman dan juga tidak memusuhi jin / prewangan. Kedua, jin merupakan makhluk yang sangat tendensius. Mereka tidak akan mau rugi. Setiap bantuan yang mereka berikan pasti mereka tuntut imbalannya. Kalau kita tidak bisa memenuhi – anak cucu kita yang akan ditagih. Ketiga, jangankan memberi dan mencarikan dana atau membangun pondok - masuk ke pondok  saja mereka tidak bisa. Itu menurut para ahli jin dan makhluk halus lainnya.

Pertanyaan :
Saya yakin dana yang sudah dikeluarkan sangat besar. Apakah pondok ini mendapat bantuan dari luar negeri terutama dari negara arab?
Jawab :

Pondok ini belum pernah menerima bantuan dari manapun termasuk dari luar negeri; dari negara non muslim maupun dari negara arab. Bahkan dari Pemerintah baik pusat maupun Daerah. Secara lahir semuanya berjalan secara swadana. Pada hakekatnya, sesungguhnya sebenar benarnya ini adalah wujud dari Kemurahan Allah; bukan kehebahan siapa siapa dan bukan karena doa siapa siapa. Murni, asli  pemberian langsung dari Allah untuk seluruh makhluknya. Itu yang selalu diingatkan oleh Romo Kyai Ahmad kepada Panitia, santri maupun jamaah.

Pertanyaan :
Bagaimana peran dari pemerintah Daerah baik Tingkat II, Tingkat I maupun dari Pusat.
Jawab :

Pemerintah Daerah Kabupaten Malang sangat mendukung dan memberikan support terhadap pondok meskipun tidak dalam bentuk dana. Hal itu bisa dimengerti karena untuk mengalokasikan anggaran harus ada dasarnya – proposal. Kami tidak berani membuat proposal karena bertentangan dengan prinsip tidak meminta minta. Namun demikian PemDa Kabupaten Malang memberikan kemudahan didalam pengurusan IMB.

Pertanyaan :
Donatur pondok darimana saja? Tentunya mereka orang orang kaya atau pengusaha besar.
Jawab :

Di pondok tidak ada istilah donatur, sumbangan ataupun bantuan. Demikian juga tidak ada pencarian dana maupun penggalangan dana. Donatur, sumbangan atau bantuan mempunyai konotasi yang menerima membutuhkan dan sebagai akibat dari permintaan. Sedangkan yang memberi seolah olah berlebih. Padahal tidak demikian halnya yang terjadi di pondok. Pondok, kasarnya, sama sekali tidak membutuhkan bantuan karena apa yang ada kami terima sebagai nikmat atau pemberian Allah yang betul betul sudah sempurna. Kalaupun ada orang yang memberi dalam bentuk infaq atau hadiah Romo Kyai akan mengembalikan dalam bentuk fasilitas atapun bangunan di pondok yang bermanfaat untuk membersihkan hati pemberi dana. Disamping itu fasilitas atau bangunan yang berasal dari pemberi dana dapat menjadi alat untuk membersihkan hatinya semua orang. Itu merupakan amalan bagi pemberi dana. Jadi pemberi dana mendapat 3 manfaat ganda: pertama dia mengikuti perintah untuk beramal, kedua dibersihkan hatinya dan ketiga ikut berperan dalam membersihkan hatinya ummat. Jadi apa yang diterima oleh Romo Kyai secara berlipat ganda dikembalikan lagi kepada yang memberi
Jamaah pondok tidak ada yang kaya raya. Tidak ada yang menjadi pengusaha besar. Kebanyakan pegawai, guru dan dosen, marinir, bekerja sebagai tukang dalam berbagai bidang pekerjaan. Tidak ada yang mempunyai uang milyaran. Kami yakini bahwa setiap kegiatan yang diniatkan untuk urusan akhirat Allah pasti memenuhi seluruh kebutuhannya dalam bentuk: ilmunya, dananya, bahannya, tenaganya dan waktunya. Keyakinan ini yang melandasi seluruh pelaksanaan kegiatan di pondok.

Pertanyaan :
Untuk membangun pondok ini sudah menghabiskan dana berapa?
Jawab :

Seluruh pengeluaran untuk membangun pondok ini tidak pernah dicatat dan diadministrasikan seperti pada umumnya pembangunan sebuah proyek. Dana yang sudah keluar ya sudah habis ceritanya. Kami yakin akan manfaat dana yang sudah dipakai. Dan lagi kalau mengetahui jumlah yang sudah keluar kami takut terkena penyakit merasa bisa, merasa sudah, berbangga dsbnya.

 
VI. Pertanyaan yang berhubungan dengan bangunan dan pembangunan pondok
 
Pertanyaan :
Apa betul ini masjid tiban?
Jawab :
Tidak betul. Pertama; ini bukan masjid tetapi pondok pesantren. Kedua; pondok dirintas sejak tahun 1963, 47 tahun yang lalu. Pondok yang ada sekarang merupakan pengembangan dari rumah keluarga Romo Kyai Ahmad dimana beliau dilahirkan. Sejak tahun 1987 sudah dibangun meskipun masih bersifat semi permanen sampai tahun 1992. Pembangunan dimulai lagi tahun 1999 secara intensip sampai sekarang. Sudah berjalan selama 11 tahun dan Alhamdulillah sudah mencapai 40% dari yang sudah ada kalu diselesaikan.. Jadi pondok ini tidak jatuh dari langit tetapi dibangun.
Pertanyaan :
Apa betul pondok ini muncul atau mumbul sendiri? Karena tahu tahu sudah ada dan tidak kelihatan membangunnya.
Jawab :
Pondok ini tidak muncul dengan sendirinya. Pondok terletak di lembah sehingga setelah sampai lantai lima baru kelihatan dari luar. Sedangkan proses pembangunan pondok ini berjalan sedikit demi sedikit , ruang demi ruang. Bahan bangunan yang dibeli hanya pas untuk keperluan satu pekerjaan saja sehingga tidak memakai angkutan dengan truk besar. Cukup dengan pick up atau truk kecil saja. Apalagi pondok ini dibangun tanpa memakai alat besar. Jadi tidak benar pondok muncul atau keluar dengan sendirinya dari dalam tanah.
Pertanyaan :
Tempat ini terkenal dengan nama masjid jin. Apakah pondok ini memang dibangun dengan mempekerjakan jin.
Jawab :

Pertama; ini bukan masjid tetapi pondok pesantren. Pembangunan pondok ini diarsiteki oleh Romo Kyai Ahmad sendiri dan dikerjakan oleh santri dan jamaah yang sama sekali tidak mempunyai latar belakang tehnis bangunan sama sekali.
Seperti umumnya ummat islam kami memahami  bahwa sebaik baik jin masih lebih jelek dari dari sejelek-jeleknya manusia. Kami tidak berhubungan apalagi meminta bantuan jin; namun kami juga tidak memusuhi jin karena masing masing bergerak dalam bidang dan ruangnya sendiri sendiri. Jangankan ikut membangun pondok – masuk kedalam pondok saja jin tidak bisa. Itu menurut para pakar jin dan makhluk halus.
Pendirian pondok tentang jin sangat tegas dan jelas dan bisa dibaca di ukiran / relief di taman bagian selatan pondok seperti berikut: 
jin termasuk makhluk jahat yang menjerumuskan kita. sebaik baik jin itu seburuk buruk manusia. jangan mengenal jin dan jangan mau dikalahkan maupun mengalahkan jin. kalau kita mengalahkan jin maka anak cucu kita akan dikalahkan mereka. tidak semua anak cucu kita dapat mengalahkannya. tapi alhamdulillah kita punya pondok yang tidak dapat dimasuki jin. tapi jangan lupa kewaspadaannya. katanya orang orang yang mengetahui makhluk ghoib pondok ini tidak bisa dimasuki jin.

Pertanyaan :

Siapa dan darimana arsitek pondok ini? Apakah dari luar negeri?

Jawab :

Pondok ini diarsiteki oleh Romo Kyai Ahmad sendiri meskipun beliau tidak mempunyai latar belakang pendidikan arsitektur maupun tehnik sipil dan tidak mempunyai pengalaman dalam bidang pertukangan. Pada tahap awal pembangunan Romo Kyai Ahmad bahkan tidak tahu ( tidak bisa menyebut ) nama bahan dan peralatan bangunan. Misalnya beliau tidak tahu namanya beton esser. Waktu itu beliau hanya menyebut – besi bunder ukuran sak jentikan  untuk menunjukkan beton esser ukuran 12mm. Beliau tidak tahu namanya begesting, bordes, scalfolding dsbnya. Bahkan yang tidak senang kepada beliau malah menyebut beliau sebagai “ arsitek terong”.

Pembangunan pondok dilandaskan pada hasil istikharah bukan ilmu tehnik sipil maupun ilmu arsitektur. Tolok ukur yang dipakai adalah kompas cinta kepada Allah. Setiap bangunan yang akan dibangun harus dapat berfungsi untuk membersihkan penyakit penyakit tertentu yang selanjutnya dapat menambah cinta kita kepada Allah. Bangunan yang tidak dapat bermanfaat untuk menambah cinta kepada Allah tidak akan dikerjakan. Jadi arsiteknya bukan dari luar negeri.
Pertanyaan :
Siapa yang mengerjakan pembangunan pondok ini. Insinyurnya dari mana.
Jawab :

Pembangunan dikerjakan oleh santri dan jamaah serta beberapa tenaga dari desa setempat yang pada awalnya merupakan tenaga pembantu. Tidak ada pekerja dan insinyur dari luar negeri.
Seperti Romo Kyai Ahmad santri dan jamaah sama sekali tidak mempunyai latar belakang ilmu maupun pengalaman tehnik sipil, arsitektur maupun pertukangan. Namun atas Kemurahan Allah pondok dapat berdiri dan pembangunan pondok tetap berlangsung bahkan dapat dinikmati oleh jutaan orang. Tidak sekedar menikmati bangunan pondok melainkan dapat membuat hati tenang, damai dan bahagia; membuat iman dan taqwa bertambah dan membersihkan berbagai penyakit hati. Atas dasar itu Romo Kyai Ahmad sering mengatakan: “Ketang ketang nggih bangunan niki saged dados.”. “Untung untung ya bangunan ini dapat jadi!”.

Pertanyaan :
Apakah yang bekerja juga dibayar? Berapa per harinya?
Jawab :

Santri dan jamaah tidak dibayar, tetapi pekerja dari desa setempat dibayar sesuai dengan tarip umum. Pekerjaan yang dikerjakan oleh santri dan jamaah baik yang bersifat kewajiban maupun kebajikan apada hakekatnya adalah untuk keperluan dirinya sendiri; bukan untuk pondok. Manfaat yang diperoleh adalah ketrampilan kerja; melatih kepekaan rasa, hatinya terbersihkan, hasil kerjanya dapat membersihkan hatinya ummat – amalan yang tidak ternilai harganya dan sulit untuk dihitung dengan kekayaan. Belum lagi pengaruh positif yang terjadi di keluarganya baik yang di dalam pondok maupun yang diluar pondok. Hal itu dapat secara langsung dirasakan oleh santeri dan jamaah.
Kalaupun dibayar bagaimana harus membayar seorang dosen, kepala sekolah, para sarjana S1 dan S2; dokter, perwira dan perwira mengenah anggota ABRI.? Dan yang pasti mereka tidak akan mau menerima bayaran. Mereka sangat paham apa manfaat kegiatan pondok bagi dirinya, keluarganya, maupun semua ummat.

Pertanyaan :
Kalau tidak dibayar bagaimana santri yang sudah berkeluarga membiayai keluarganya?
Jawab :

Santri yang ada di pondok kenyataannya tidak ada yang membayar. Seluruh kebutuhan  makan dan minum diberi dari pondok. Santri bekerja pada hakekatnya adalah untuk kepentingannya sendiri. Bekerja adalah salah satu sarana belajar dalam metodologi belajar sambil mengerjakan dan belajar dari kesalahan. Yang didapat tidak hanya ilmu lahir tetapi juga pembersihan penyakit penyakit secara berkelanjutan.
Dalam bekerja, tidak jarang, santri diberi hadiah uang yang nilainya 80% dari ongkos tukang secara umum. Disamping itu santri yang sudah berkeluarga juga diberi tempat usaha dalam bentuk kios dan warpin untuk menambah penghasilan. Catatannya adalah urusan dagang bukanlah merupakan tujuan; tujuan diberi kios dan warpin adalah untuk menyebarkan barokah.

Pertanyaan :
Kenapa saya tidak melihat orang sedang bekerja?
Jawab :

Pada hari minggu santri tidak bekerja di bangunan; tenaganya lebih banyak dipakai untuk melayani tamu. Pada hari minggu dan hari libur yang mengerjakan bangunan kebanyakan para jamaah yang karena kebanyakan mereka bekerja baik sebagai pegawai, ABRI maupun swasta hanya mempunyai kesempatan pada hari minggu dan hari libur saja.
Untuk diketahui bahwa setiap hari sekitar 20 sampai 30 titik pekerjaan selalu ada. Memang dalam skala pekerjaan kecil kecil yang dikerjakan oleh 2- 10 orang saja. Sekitar 150 sampai 200 orang selalu bekerja di pondok setiap harinya dalam berbagai kegiatan.

Pertanyaan :
Saya tidak melihat alat berat. Padahal tempat ini mempunyai 10 lantai. Bagaimana itu mungkin?
Jawab :

Semua pekerjaan di pondok dikerjakan secara manual. Romo Kyai Ahmad memberikan kesempatan seluas luasnya bagi siapapun yang berniat untuk membersihkan hati di pondok. Sarana  untuk membersihkan hati dapat berupa tenaga, harta maupun pemikiran. Itulah sebabnya pondok tidak memakai alat berat dalam proses membangun agar setiap orang yang berminat dapat berperan serta ikut andil dalam menyiapkan sarana pembersihan hati. Jadi bagi mereka yang hanya mempunyai tenaga sajapun dapat mengambil kesempatan untuk beramal )
Untuk pekerjaan yang berlangsung di lantai atas bahan bangunan diangkat dan atau dikerek oleh santri dan jamaah. Demikian juga kalau ngecor dilantai atas; dikerjakan beramai ramai secara beruntun. Untuk itu bisa dibutuhkan tenaga sampai 100 orang lebih.  Jamaah yang mendengar atau diberitahu biasanya secara otomatis dan dengan senang hati akan datang dan ikut berperan serta.

Pertanyaan :
Mengapa saya tidak melihat tumpukan bahan bangunan? Saya tidak melihat adanya gudang.
Jawab :

Bahan bangunan dibeli sesuai dengan kebutuhan untuk satu pekerjaan. Disamping itu bahan bangunan untuk satu pekerjaan tidak bisa dipakai untuk keperluan pekerjaan yang lain. Jadi setiap pekerjaan dibelikan bahan sendiri sendiri dan diletakkan persis ditempat kerjanya. Karena umumnya setiap pekerjaan volumenya kecil maka bahannya juga sedikit. Apalagi bahan dibeli secara bertahap tidak diadakan untuk kebutuhan seluruh pekerjaan.
Jadi memang di pondok tidak ada gudang persediaan bahan. Itu lebih efisien. Toh kebutuhan bahan dapat sewaktu waktu dipesan kepada toko langganan.

Pertanyaan :
Jalan masuk ke pondok sangat sempit. Bagaimana truk materialan dapat masuk untuk mensuplai kebutuhan bahan?
Jawab :

Seperti dijelaskan diatas pengadaan bangunan tidak dalam volume besar. Jadi cukup dengan pick up utau truk kecil untuk pasir dan batu.

Sebenarnya jalan masuk ke pondok dapat dimasuki truk dan bus besar. Pada saat membeli afal marmer atau besi beton kami mempergunakan truk besar
Pertanyaan :
Katanya bahan bangunan datang sendiri dan datangnya malam hari. Apa betul?
Jawab :

Bahan bangunan datang sendiri betul dalam pengertian diantar oleh toko langganan kami. Namun setelah datang kami harus membayar karena merupakan pesanan kami. Kami jarang membeli sendiri bahan bangunan karena toko langganan kami sudah biasa melayani dan kami selalu membayar kontan atau paling lambat karena masalah tehnis bisa setelah satu atau dua hari. Bahan kadang kadang dikirim pada malam hari memang betul; itu terutama kalau ada kekurangan bahan sewaktu ngecor. Umumnya bahan bangunann diantar siang hari.

Pertanyaan :
Model bangunan dan relief apakah meniru dari luar negeri kok ada yang seperti bangunan Timur Tengah, Cina, Hindu, Bali?
Jawab :

Semua yang ada di pondok apakah gedung, ornamen, ukuran dan warna keramik, meubeler, hiasan , bunga dan tanaman termasuk kendaraan diadakan atad dasar istikharah. Bukan karena senang, bukan karena kok baik kalau dikasih ….. . tidak ada yang ditiru dari manapun. Semuanya atas dasar petunjuk, olah rasa hati atau ilmu sirri.

Pertanyaan :
Kenapa dalam membangun pondok tidak diselesaikan satu blok dulu baru pindah ke yang lain. Tidak seperti sekarang kegiatannya meluas tetapi belum jadi semuanya?
Jawab :

Pembangunan disesuaikan dengan tingkat kegawatan penyakit hati yang sedang berkembang dimasyarakat. Dan itupun atas dasar istikharah. Penyakit hati yang sifatnya gawat darurat ditangani lebih dahulu. Yang darurat tetapi tidak gawat belakangan. Yang tidak darurut dan tidak gawat lebih belakangan lagi. Kapan yang tidak gawat darurat ditangani – kembali lagi atas dasar istikharah.
Atas dasar itu pula santri tidak jarang terjadi dapat berpindah tempat kerja beberapa kali dalam satu hari.

Pertanyaan :
Mengapa jalan atau gang yang ada didalam pondok dibuat berliku liku, berbelok belok sehingga malah membingungkan.
Jawab :
Jalan dan gang yang ada di pondok tidak dibuat atas dasar selera apalagi untuk membingungkan tamu. Sekali lagi semuanya atas dasar istikharah. Begitu petunjuk begitu yang dikerjakan. Beberapa pengunjung memaknai: itulah gambaran jalan menuju kepada Allah; tidak lurus tidak gampang. Tetapi bagi betul betul berusaha pasti ketemu jalan keluarnya
Pertanyaan :
Apa maknanya diatas pondok dibuat gunung dan ada batu yang berwarna putih?
Jawab :

Kami tidak terbiasa dan para santri dan jamaah juga tidak mengerti makna dari sebuah bangunan. Yang kami tahu dan bisa merasakan adalah bahwa setiap bangunan bagiamanapun bentuknya pasti atas dasar petunjuk langsung dari Allah dan pasti merupakan jalan keluar untuk membersihkan penyakit hati. Demikian juga “ batu” diatas gunungan.
Yang terlihat seperti batu diatas gunungan bukanlah batu beneran, tetapi dibentuk; dalamnya kosong.

Pertanyaan :
Katanya pondok ini dikerjakan malam hari dibantu oleh makhluk halus. Apa betul?
Jawab :

Keduanya tidak betul. Pembangunan pondok dikerjakan terutama pada siang hari, kecuali kalau ngecor yang harus dikerjakan terusan tanpa terputus. Kadang kadang kalau waktunya sangat mendesak dikerjakan secara lembur.
Pondok dibangun oleh santri dan jamaah. Bukan oleh makhluk halus. Jangankan ikut membangun pondok – masuk kedalam pondok saja mereka tidak bisa. Itu katanya yang ahli jin.

__________________________________________________________________________
¹) Setiap pekerjaan di pondok dimengerti dan secara nyata dapat dirasakan sebagai sebuah peluang / alat untuk membersihkan hati. Itulah sebabnya para santri maupun jamaah dengan kemauan sendiri memanfaatkan setiap kesempatan itu sesuai dengan kemampuan hati dan sarana yang dipunyai. Itulah sebabnya para santri dan jamaah  yang bekerja di pondok ( kecuali beberapa orang tukang dari luar pondok ) tidak bisa disebut pekerja dan tidak mengharap upah. Mereka mengerti dan bisa merasakan manfaatnya atas peran sertanya dan kegunaan hasilnya. Pada hakekatnya apa yang mereka kerjakan merupakan sebuah pengabdian.

 

 

 
[ kembali ke atas ]
Hak Cipta Oleh Ponpes Bi Ba'a Fadlrah 2008
Resolusi monitor terbaik menggunakan 1024 x 768